Harga Emas Tertekan Tajam, Sentimen Global Picu Potensi Pelemahan Lanjutan

emas

ID, Jakarta – Harga emas global mengalami tekanan signifikan pada awal pekan ini, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan penguatan dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (4/5/2026) ditutup di level US$4.520,40 per troy ons, atau turun sekitar 2,02 persen.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dalam dua hari terakhir dengan akumulasi penurunan mencapai lebih dari 2 persen. Level tersebut juga menjadi yang terendah sejak akhir Maret 2026. Pada perdagangan Selasa pagi (5/5/2026), harga emas masih menunjukkan kecenderungan stagnan di kisaran US$4.519 per troy ons.

Tekanan terhadap harga emas dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga energi serta penguatan dolar AS. Situasi ini menciptakan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan mendorong pasar memperkirakan kebijakan suku bunga global akan tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyatakan bahwa dinamika geopolitik dan kebijakan moneter saat ini memberikan tekanan psikologis terhadap pasar. “Kondisi terbaru tidak memberikan keyakinan terhadap stabilitas jangka pendek, dan memunculkan kembali kekhawatiran inflasi serta kebijakan suku bunga yang cenderung hawkish,” ujarnya.

Eskalasi konflik dilaporkan terjadi di jalur strategis Selat Hormuz, yang berdampak pada distribusi energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak lebih dari 5 persen, memperkuat tekanan inflasi global. Dalam situasi ini, penguatan dolar AS membuat emas—yang diperdagangkan dalam denominasi dolar—menjadi relatif lebih mahal bagi investor non-dolar, sehingga menurunkan permintaan.

Selain itu, prospek kebijakan moneter yang ketat turut membatasi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai. Berbeda dengan aset berbunga, emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang kompetitif dalam lingkungan suku bunga tinggi. Sejumlah lembaga keuangan, termasuk Barclays, bahkan memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan dari Federal Reserve dalam waktu dekat.

Pada pekan sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan yang dinilai cukup terfragmentasi, mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, khususnya dari sektor energi.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti data lowongan kerja, laporan tenaga kerja ADP, serta payroll non-pertanian April, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.

Secara teknikal, analis memperkirakan level US$4.200 per troy ons sebagai titik dukungan (support) kuat bagi harga emas. Namun, ketidakpastian global dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan dapat memicu aksi jual jangka pendek oleh investor.

Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami tekanan. Data Refinitiv menunjukkan harga perak turun 3,47 persen ke level US$72,72 per troy ons pada perdagangan Senin, dan masih melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi.

Dengan dinamika global yang masih bergejolak, pasar komoditas logam mulia diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek, seiring interaksi antara faktor geopolitik, inflasi, dan arah kebijakan moneter global.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version