Alternatif kedua adalah franchise gerai baru–konversi, yang ditujukan bagi pemilik toko kelontong atau minimarket lokal yang ingin bertransformasi ke sistem ritel modern. Skema ini memberikan efisiensi investasi melalui pengakuan terhadap aset yang telah dimiliki, seperti stok barang maupun rak display, sepanjang memenuhi standar operasional Alfamart. Proses konversi melibatkan tahapan audit stok (stock opname), penyesuaian sistem, serta integrasi ke dalam jaringan distribusi perusahaan.
Sementara itu, bagi investor yang menginginkan model bisnis dengan tingkat risiko operasional lebih rendah, tersedia opsi franchise take over, yaitu pengambilalihan gerai yang sudah berjalan. Nilai investasi untuk skema ini dimulai dari sekitar Rp800 juta, yang umumnya telah mencakup hak waralaba, sewa lokasi selama lima tahun, perlengkapan operasional, serta nilai goodwill usaha. Dengan basis pelanggan yang telah terbentuk, skema ini sering dipandang lebih cepat dalam mencapai titik impas (break-even point), meskipun membutuhkan modal awal yang relatif lebih besar.
Dalam aspek biaya operasional, mitra juga dikenakan royalti berbasis kinerja penjualan yang bersifat progresif. Tarif dimulai dari 0% untuk omzet hingga Rp150 juta per bulan, dan meningkat secara bertahap hingga 4% untuk penjualan di atas Rp250 juta. Struktur ini mencerminkan pendekatan insentif yang mempertimbangkan skala usaha dan performa bisnis.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
