Ia menegaskan bahwa pers siber tumbuh bukan dari privilese, melainkan dari ketekunan dan keberanian menghadapi stigma, termasuk anggapan bahwa jurnalis yang berada di luar lingkar kekuasaan atau kelompok besar kerap dianggap tidak relevan.
Dalam pandangannya, jurnalisme bukan sekadar profesi teknis, melainkan kerja moral yang menempatkan wartawan sebagai penyambung cahaya informasi bagi publik—bukan perpanjangan tangan kekuasaan.
Cilegon dan Lahirnya Gagasan Nasional
Firdaus menelusuri kembali perjalanan pribadinya di dunia pers sejak 2007, saat media daring masih berada di pinggiran ekosistem informasi nasional. Pada masa itu, dominasi media cetak dan konglomerasi informasi menyisakan ruang sempit bagi suara alternatif.
Dari kondisi tersebut, media online ia gagas sebagai kanal baru yang memberi ruang lebih luas bagi masyarakat. Perjalanan itu mencapai titik penting pada 2017, ketika SMSI dideklarasikan di Cilegon—sebuah momentum yang, menurut Firdaus, bukan kebetulan sejarah.
Ia menyebut Cilegon sebagai salah satu fondasi awal SMSI sebelum organisasi tersebut berkembang secara nasional, membentuk jejaring media siber dari wilayah barat hingga timur Indonesia, termasuk Papua. Dari kota inilah, gagasan tentang media siber daerah yang berdaulat dan profesional dirumuskan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
