“Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” cetus Hasyim.
Ia secara khusus menyoroti persoalan informasi yang disampaikan secara parsial dan dilepaskan dari konteks. Menurut Hasyim, pola pemberitaan semacam itu berpotensi menghasilkan distorsi terhadap pemahaman publik, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang sedang menjadi prioritas.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena masyarakat kini berhadapan dengan ekosistem informasi yang bergerak secara simultan melalui media arus utama, media siber, dan media sosial.
Dalam kondisi demikian, kelengkapan konteks menjadi bagian penting dari kualitas jurnalistik. Informasi yang benar secara faktual sekalipun dapat menghasilkan pemahaman yang keliru apabila disajikan secara parsial atau terlepas dari konteks kebijakan yang melatarbelakanginya.
Karena itu, Hasyim mengatakan pihaknya telah mengagendakan dialog dengan sejumlah kelompok mahasiswa, termasuk BEM UI, UGM, dan ITB.
Dialog tersebut, kata dia, akan digunakan untuk memperoleh masukan yang dapat menjadi bahan koreksi sekaligus rekomendasi bagi pemerintah.
“Sebagai penasehat Presiden masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” tambahnya.
Desa sebagai Etalase Negara
Bagi SMSI, penguatan Newsroom Jaga Desa memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar produksi berita mengenai desa.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
