Jeffry menekankan, keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur semata-mata melalui capaian akademik. Kemampuan peserta didik dalam membangun relasi sosial, bersikap mandiri, serta menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi indikator penting.
“Membentuk anak menjadi pintar saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana membentuk karakter mereka saat berinteraksi di tengah masyarakat. Karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di luar kelas, maka dibutuhkan kolaborasi semua pihak,” jelasnya.
Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman pribadinya. Menurut Jeffry, proses pembentukan diri tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui keterlibatan dalam organisasi dan interaksi sosial. Pengalaman di luar sekolah turut membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menghadapi persoalan.
Perspektif itu, menurutnya, semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Kemudahan mengakses informasi memang membuka peluang bagi anak untuk belajar lebih luas, tetapi juga menghadirkan risiko apabila tidak disertai kemampuan memilah informasi dan fondasi karakter yang kuat.
“Kita hidup di era yang serba mudah, tetapi juga penuh risiko. Jika anak-anak tidak dibekali dengan karakter yang kuat, maka mereka akan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif,” tegasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
