Menurutnya, eksistensi gereja tidak hanya berfungsi sebagai pusat spiritualitas, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang turut menyumbangkan pemikiran, tenaga, dan nilai-nilai moral dalam pembangunan daerah. “Kontribusi gereja selama ini menjadi bagian integral dari kemajuan Kota Kupang yang kita rasakan saat ini,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa peringatan HUT ke-36 Jemaat GMIT Kaisarea seyogianya dimaknai sebagai momentum reflektif, bukan sekadar kegiatan seremonial. Perjalanan panjang jemaat, menurutnya, merepresentasikan dinamika iman, pengharapan, dan kasih yang terus berkembang di tengah berbagai tantangan sosial.
“Perjalanan 36 tahun ini mencerminkan kontinuitas iman, keteguhan dalam pengharapan, serta konsistensi dalam pelayanan kasih. Nilai-nilai tersebut perlu terus dipelihara sebagai fondasi kehidupan bergereja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wali Kota menekankan urgensi pembangunan sumber daya manusia yang holistik, yakni yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan iman dan karakter yang kuat. Ia menegaskan pentingnya integrasi antara aspek keilmuan dan spiritualitas dalam membentuk masyarakat yang berdaya saing sekaligus beretika.
“Ilmu pengetahuan tanpa landasan iman berpotensi melahirkan arogansi, sementara iman tanpa pengetahuan dapat menimbulkan disorientasi. Oleh karena itu, keduanya harus berjalan secara simultan dan seimbang,” tegasnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















