ID, Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi ajang sepak bola paling megah sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar di tiga negara sekaligus yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta serta total 104 pertandingan. Namun di balik kemegahan tersebut, berbagai kontroversi justru mulai membayangi jauh sebelum bola pertama ditendang.
Turnamen akan dibuka di Estadio Azteca pada 11 Juni 2026 dan ditutup di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026. FIFA menjanjikan pesta sepak bola terbesar dunia, tetapi kritik terhadap penyelenggaraan terus bermunculan dari berbagai pihak.
Sorotan paling tajam datang dari harga tiket yang dinilai tidak masuk akal. Tiket final dilaporkan mencapai sekitar 573 juta rupiah per kursi, bahkan di pasar penjualan ulang ada yang menembus miliaran rupiah. Situasi ini memicu kemarahan kelompok suporter di Eropa yang menilai Piala Dunia kini semakin jauh dari penggemar sepak bola biasa dan hanya menjadi tontonan eksklusif kalangan elite.
Kontroversi lain muncul dari situasi politik di Amerika Serikat. Kebijakan imigrasi ketat serta meningkatnya tensi geopolitik memunculkan kekhawatiran soal keamanan dan kenyamanan peserta maupun suporter internasional. Organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch dan Amnesty International turut memberi peringatan mengenai potensi diskriminasi dan pembatasan kebebasan selama turnamen berlangsung.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















