Per Januari 2026, sekitar 55 persen impor minyak mentah India—setara 2,74 juta barel per hari—berasal dari kawasan Timur Tengah. Proporsi ini menjadi yang tertinggi sejak akhir 2022.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Kekhawatiran pasar meningkat setelah konflik antara Iran dan koalisi Israel–AS memicu eskalasi yang berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan di jalur strategis itu langsung mendorong harga minyak global. Harga Brent melonjak sekitar 7 persen pada perdagangan Senin (2/3). Jika konflik berkepanjangan, tekanan harga energi dikhawatirkan akan semakin tajam.
Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri sebelumnya menyatakan negaranya memiliki kapasitas penyimpanan minyak dan bahan bakar sekitar 74 hari. Namun sumber di sektor pengilangan menyebut stok riil kemungkinan hanya cukup untuk 20–25 hari.
Apabila gangguan pasokan berlanjut, New Delhi berpotensi mencari sumber alternatif di luar Timur Tengah. Pemerintah India menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjamin ketersediaan energi dengan harga terjangkau.
Asia Paling Terdampak
Secara umum, Asia menyerap hampir 90 persen ekspor minyak Timur Tengah. Jepang dan Korea Selatan juga sangat bergantung pada kawasan tersebut, masing-masing sekitar 95 persen dan 70 persen dari total kebutuhan impor. Meski demikian, kedua negara memiliki cadangan energi yang jauh lebih besar—Jepang setara 254 hari konsumsi dan Korea Selatan sekitar 208 hari.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
