Sementara itu, Eropa dan AS memang tidak lagi menjadi pembeli utama minyak mentah Timur Tengah. Tahun lalu, AS mengimpor kurang dari 900 ribu barel per hari dari negara-negara Teluk. Namun, keduanya tetap berisiko terdampak melalui lonjakan harga minyak global jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama.
Analis Kpler Matt Smith menambahkan Eropa berpotensi menghadapi kesulitan pasokan bahan bakar jet, mengingat kawasan Teluk menyumbang sekitar 45 persen impor bahan bakar jet Eropa melalui jalur laut.
Apabila konflik berlarut dan jalur distribusi utama tidak dapat digunakan dalam waktu lama, persaingan global untuk mendapatkan tambahan pasokan minyak diperkirakan akan semakin ketat. Dalam situasi tersebut, negara dengan cadangan paling tipis dan ketergantungan terbesar akan menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
