Proses tawar-menawar menjadi pemandangan umum. Nilai “mahar” yang disepakati sangat bergantung pada penilaian komunitas terhadap calon pengantin perempuan, mulai dari penampilan fisik hingga reputasi keluarga. Semakin dianggap menarik, semakin tinggi pula harga yang diminta.
Mayoritas peserta pasar berasal dari komunitas etnis Kalaidzhi Romani di Bulgaria, kelompok minoritas yang jumlahnya diperkirakan sekitar 18.000 jiwa dan selama ini kerap menghadapi stigma serta marginalisasi sosial.
Etnografer dari Akademi Sains Bulgaria, Velcho Krustev, yang telah lama meneliti praktik tersebut, menyebut bahwa transaksi di pasar ini bukan sekadar soal pernikahan. “Yang sebenarnya dibeli oleh para pria bukan istri, melainkan keperawanan,” ujarnya.
Salah satu calon pembeli, Hristos Georgiev (18), terlihat tengah bernegosiasi dengan keluarga Donka Dimitrova (18). Dari proses tersebut, disepakati nilai mahar antara 7.000 hingga 11.300 dolar AS, atau sekitar Rp189 juta, sebagaimana dilaporkan NDTV. Jumlah itu bahkan melampaui rata-rata pendapatan tahunan pekerja di Bulgaria.
Georgiev mengaku harus mengumpulkan tabungan selama bertahun-tahun demi memenuhi harga tersebut. “Jika calon pengantin sangat cantik, nilainya bisa melonjak tinggi,” katanya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.















