ID, JAKARTA – Perjalanan pulang kampung menjelang Lebaran telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia. Aktivitas yang dikenal luas dengan istilah “mudik” ini melibatkan jutaan orang yang meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke daerah asal dan berkumpul bersama keluarga.
Untuk arus mudik Lebaran 2026, pergerakan kendaraan diperkirakan memuncak pada 18 Maret 2026 atau tiga hari sebelum Idulfitri. Pada periode tersebut, sekitar 3,5 juta kendaraan diprediksi meninggalkan kawasan Jabodetabek menuju berbagai daerah di Indonesia.
Meski istilah mudik sangat akrab di telinga masyarakat, tidak banyak yang mengetahui bahwa kata tersebut memiliki latar belakang bahasa dan sejarah yang cukup panjang.
Penelusuran dari portal Indonesia Baik yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyebutkan bahwa kata mudik berkaitan dengan ungkapan Jawa “mulih dilik”, yang secara harfiah berarti pulang sebentar. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi kata yang menggambarkan kebiasaan kembali ke kampung halaman dalam waktu singkat.
Sementara itu, pengertian mudik juga tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Dalam kamus tersebut, mudik dijelaskan sebagai perjalanan menuju wilayah udik atau pedalaman, serta aktivitas pulang ke kampung halaman.
Penjelasan etimologis lain datang dari antropolog Heddy Shri Ahimsa-Putra dari Universitas Gadjah Mada. Ia menjelaskan bahwa istilah mudik berkaitan dengan kata “udik” dalam bahasa Melayu yang merujuk pada bagian hulu sungai atau wilayah pedalaman.
Dalam konteks sejarah, kata tersebut digunakan untuk menggambarkan perjalanan dari daerah hilir menuju bagian hulu sungai. Seiring perubahan pola mobilitas masyarakat, istilah itu kemudian mengalami pergeseran makna hingga identik dengan perjalanan kembali ke daerah asal.
Tradisi mudik sendiri mulai berkembang pesat ketika urbanisasi meningkat tajam di Indonesia. Berdasarkan penjelasan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, kebiasaan pulang kampung semakin terlihat sejak dekade 1970-an, saat banyak masyarakat desa merantau ke kota besar untuk bekerja.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menilai fenomena tersebut berkaitan dengan pergeseran demografi setelah masa kemerdekaan. Pada periode 1960-an hingga 1970-an, kota-kota besar seperti Jakarta mulai dipadati pendatang dari berbagai daerah yang mencari peluang ekonomi.
Ketika hari raya tiba, para perantau ini kembali ke daerah asal untuk bertemu keluarga. Kebiasaan tersebut akhirnya berkembang menjadi tradisi sosial yang terus berlangsung hingga kini.
Saat ini, mudik tidak hanya dipandang sebagai perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi simbol kuat dari nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan ikatan emosional masyarakat Indonesia dengan kampung halamannya.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
