Dalam pidatonya, Firdaus juga menyentuh tantangan yang dihadapi dunia pers, termasuk stigma terhadap wartawan dan tekanan dari kekuasaan. Ia menekankan bahwa jurnalis harus berperan sebagai “dai” atau penyampai kebenaran bagi masyarakat, bukan sebagai alat kekuasaan.
“Kita turun ke dunia pers bukan sekadar pekerjaan, tetapi profesi mulia. Jurnalis itu cahaya bagi masyarakat,” tegasnya. Ia mengklaim konsisten pada jurnalisme murni tanpa pernah mengambil proyek dari anggaran daerah.
Monumen Siber Indonesia diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk menjaga integritas, profesionalisme, dan keberpihakan pada publik.
“Ini legacy kita. Ini warisan untuk bangsa,” pungkas Firdaus. “Dari Cilegon, untuk Indonesia.” red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
