Wali Kota Kupang dalam Refleksi Natal Bersama Ikatan Keluarga Besar Ngalupolo

natal

ID, Kupang – Perayaan Natal dan Tahun Baru Ikatan Keluarga Besar Ngalupolo (IKN) Kota Kupang yang digelar di Hotel Pelangi, Sabtu (3/1). Di ruang yang dipenuhi tawa, doa, dan pelukan lintas generasi itu, Natal tidak berhenti pada liturgi, dan tahun baru tidak sekadar penanda kalender. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan, refleksi, dan penguatan nilai kebersamaan di tengah kota yang terus bertumbuh dalam keberagaman.

Di hadapan para sesepuh, tokoh agama, dan anggota IKN, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari warga kota yang merawat harmoni. Ia mengingatkan bahwa Kota Kupang tidak dibangun semata oleh kebijakan dan regulasi, melainkan oleh kekuatan sosial yang tumbuh dari keluarga, komunitas, dan diaspora.

Bukankah sebuah kota akan rapuh tanpa kerukunan?
“Kota Kupang ini indah karena kerukunannya,” ujar Wali Kota. Kalimat sederhana, namun sarat makna. Di kota ini, umat lintas agama bisa duduk bersama, saling menghormati, dan berjalan seiring. Itulah wajah Kota Kupang yang bukan hanya ingin dipertahankan, tetapi diwariskan.

Kehadiran lintas generasi dalam perayaan IKN—dari para orang tua hingga generasi muda—menjadi bukti bahwa diaspora tidak kehilangan akar, meski hidup terpencar. Mereka membangun ikatan bukan karena kesamaan profesi atau kepentingan, melainkan karena kesadaran bahwa kebersamaan adalah energi sosial yang tak tergantikan.

Bagi Pemerintah Kota Kupang, komunitas seperti IKN bukan sekadar ruang silaturahmi. Ia adalah simpul ide, gagasan, dan kritik yang sehat. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” tegas Wali Kota. Sebuah pengakuan jujur bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kolaborasi.

Lalu, bagaimana Kota Kupang hari ini?
Dalam delapan bulan pertama kepemimpinannya, sejumlah capaian dicatat: masuk 10 besar Indeks Kota Toleran Indonesia, penghargaan Kota Damai dan Inklusif, TP2DD Terbaik dari Bank Indonesia, hingga tingkat kepuasan publik sebesar 80,1 persen berdasarkan survei independen Undana. Namun, bagi Wali Kota, angka-angka itu bukan panggung untuk berpuas diri, melainkan cermin tanggung jawab yang semakin besar.

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” ujarnya mengutip sebuah filosofi. Kota Kupang, katanya, memilih berjalan jauh—melintasi tantangan sosial, ekonomi, dan perubahan global yang kian kompleks.

Di sinilah diaspora seperti IKN menemukan perannya. Akademisi, profesional, tenaga kesehatan, dan berbagai latar belakang yang dimiliki keluarga besar Ngalupolo adalah kekayaan perspektif yang dibutuhkan agar kebijakan publik benar-benar lahir dari bawah, dari denyut kebutuhan masyarakat.

Menutup sambutannya, Wali Kota mengibaratkan IKN sebagai kapal. Bukan kapal yang indah karena bersandar di dermaga, tetapi kapal yang berani berlayar, menghadapi ombak, dan memberi arah. Metafora yang sederhana, namun mengandung pesan kuat: komunitas ada untuk bergerak, berkontribusi, dan memberi dampak.

Pada akhirnya, Natal dan Tahun Baru IKN mengajarkan satu hal penting: bahwa kota yang damai tidak lahir dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari keluarga-keluarga yang rukun. Dari situlah toleransi tumbuh, dari situlah masa depan Kota Kupang yang inklusif terus dibangun—perlahan, bersama-sama.

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version