Sebaliknya, angkutan laut menunjukkan tren yang berlawanan. Total pelayaran laut selama Oktober 2025 tercatat 7.398 perjalanan, turun 4,17 persen dibandingkan September 2025, meskipun masih meningkat 5,28 persen secara tahunan. Penurunan yang lebih tajam terjadi pada jumlah penumpang angkutan laut, yang merosot 14,57 persen secara bulanan dan 22,46 persen secara tahunan.
Kondisi ini mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat dari moda transportasi laut ke udara, terutama untuk perjalanan antarpulau dengan kebutuhan waktu tempuh yang lebih efisien.
Implikasi Strategis Konektivitas Wilayah
Secara keseluruhan, statistik angkutan udara NTT Oktober 2025 menggambarkan tren ekspansif yang konsisten. Pertumbuhan hampir 20 persen secara tahunan membuka peluang pengembangan rute domestik baru serta peningkatan konektivitas regional, khususnya di kawasan perbatasan dan kepulauan.
Dominasi Bandara El Tari Kupang dan Bandara Komodo Labuan Bajo menegaskan peran keduanya sebagai tulang punggung sistem transportasi udara NTT, sekaligus motor penggerak ekonomi dan pariwisata. Namun, pertumbuhan di bandara-bandara kecil menunjukkan potensi pemerataan mobilitas yang perlu terus didorong.
Di sisi lain, penurunan signifikan penumpang angkutan laut menuntut perhatian kebijakan, baik melalui peningkatan kualitas layanan, integrasi antarmoda, maupun penyesuaian peran transportasi laut dalam sistem konektivitas wilayah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.















