Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

BMKG Minta Jawa Timur Siaga Cuaca Ekstrem hingga 10 Februari 2026

Avatar photo
bmkg

ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Sidoarjo mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan berlangsung hingga 10 Februari 2026. Seluruh wilayah Jawa Timur diminta meningkatkan kesiapsiagaan karena ancaman bencana hidrometeorologi dinilai cukup signifikan.

Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menyampaikan bahwa kondisi atmosfer dalam beberapa hari ke depan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir. Situasi ini berisiko menimbulkan dampak lanjutan berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga hujan es di sejumlah daerah.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Menurut BMKG, wilayah yang masuk dalam kategori rawan meliputi sebagian besar kabupaten dan kota di Jawa Timur. Di antaranya kawasan selatan seperti Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, dan Malang, serta wilayah tapal kuda yang mencakup Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.

Potensi serupa juga mengintai daerah tengah dan utara Jawa Timur, termasuk Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Sementara itu, wilayah Madura seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep turut masuk dalam daftar kewaspadaan. Peringatan ini juga berlaku bagi kota-kota besar, antara lain Surabaya, Malang, Kediri, Blitar, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto, Madiun, dan Kota Batu.

BMKG menjelaskan, peningkatan aktivitas cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer global dan regional. Aktifnya Monsun Asia, disertai perlintasan gelombang atmosfer skala besar seperti Low Frequency, Rossby, dan Kelvin, menjadi pemicu utama meningkatnya curah hujan di wilayah Jawa Timur.

Selain itu, kondisi suhu muka laut yang relatif hangat di perairan Selat Madura serta atmosfer yang tidak stabil turut mempercepat pembentukan awan konvektif. Awan jenis ini berpotensi menghasilkan hujan lebat dalam waktu singkat yang disertai kilat dan angin kencang.

BMKG juga mencatat adanya peningkatan kecepatan angin berdasarkan analisis angin gradien lapisan 3.000 kaki. Pada akhir Januari lalu, angin dominan bertiup dari arah barat dengan pola pertemuan angin atau konvergensi, serta kecepatan yang mencapai sekitar 20 knot di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Saat ini, Jawa Timur berada pada fase puncak musim hujan. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, terutama di wilayah dengan topografi curam dan daerah aliran sungai. Warga yang tinggal di kawasan perbukitan, pegunungan, atau dekat tebing diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor, banjir bandang, serta gangguan lain seperti jalan licin, pohon tumbang, dan berkurangnya jarak pandang.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi, termasuk citra radar cuaca WOFI dan laman informasi BMKG, guna mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat dan lokal.

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan