Pernyataan tersebut menjadi semacam filosofi yang menyertai perjalanan bantuan Pemerintah Kota Kupang ke Flores.
Bukan Sekadar Perjalanan Kepala Daerah
Dari Labuan Bajo pada sore hari hingga Ruteng pada malam hari, perjalanan Christian berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Ada jarak geografis yang harus ditempuh, jalan berliku yang harus dilalui, dan kelelahan setelah perjalanan berjam-jam.
Namun keputusan untuk tetap mendatangi posko dan menyerahkan bantuan secara langsung memperlihatkan bahwa kehadiran memiliki makna tersendiri dalam situasi bencana.
Bantuan material memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Tetapi pada fase ketika warga sedang menghadapi ketidakpastian, kehadiran dan pesan bahwa mereka tidak sendirian juga memiliki arti sosial dan psikologis.
Karena itu, perjalanan Christian dari Kupang menuju Flores pada akhirnya tidak hanya dapat dibaca sebagai agenda penyaluran bantuan pemerintah.
Ia membawa pesan yang lebih luas: bahwa solidaritas tidak berhenti pada batas wilayah administratif.
Dan ketika tanah berguncang, masyarakat yang terdampak tidak harus menghadapi masa sulit itu sendirian.
Dari Kota Kupang, pesan itu dibawa melintasi laut, jalan panjang, Labuan Bajo, hingga Ruteng—bahwa basodara dong tidak sendiri. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
