ID, Kupang — Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menyambut peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) sebagai langkah strategis yang melampaui sekadar ekspansi akademik. Bagi Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, kehadiran fakultas ini merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia dan penguatan sistem kesehatan daerah.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri acara peluncuran dan peresmian Fakultas Kedokteran UCB yang berlangsung di Aula Lantai V Gedung Rektorat UCB, Rabu (4/2). Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto, para kepala daerah se-NTT, pimpinan perguruan tinggi, jajaran akademisi, serta para pemangku kepentingan di sektor kesehatan, mulai dari kepala rumah sakit hingga pimpinan puskesmas di Kota Kupang.
Dalam sambutannya, dr. Christian menilai pendirian Fakultas Kedokteran UCB sebagai pernyataan komitmen institusi pendidikan tinggi untuk mengambil peran langsung dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat. Menurutnya, pembangunan di berbagai sektor—ekonomi, pendidikan, maupun sosial—pada akhirnya bertumpu pada kondisi kesehatan manusia.
“Masyarakat yang sehat akan bekerja lebih produktif, memiliki penghasilan yang layak, dan mampu mengakses pendidikan dengan lebih baik. Karena itu, investasi terbaik sebuah daerah adalah investasi pada manusia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa momentum peresmian fakultas ini tidak semata-mata bersifat seremonial, melainkan mencerminkan sikap institusional UCB untuk berada di garis depan dalam mencetak sumber daya manusia unggul, khususnya tenaga dokter yang kompeten dan berorientasi pada pelayanan publik.
Sebagai seorang dokter, Wali Kota Kupang juga menggarisbawahi dimensi kemanusiaan dalam praktik kedokteran. Menurutnya, ilmu kedokteran berada di persimpangan antara sains, pengalaman klinis, nurani, dan pengabdian. “Dua pasien dengan penyakit dan dosis yang sama bisa menunjukkan respons yang berbeda. Di situlah seni kedokteran bekerja—pada kepekaan, empati, dan tanggung jawab moral,” katanya.
Ia berharap Fakultas Kedokteran UCB mampu berkembang sebagai pusat pembelajaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dokter yang berintegritas, berempati, dan memiliki komitmen kuat untuk melayani masyarakat, khususnya di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
Pandangan serupa disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia menyebut kehadiran Fakultas Kedokteran UCB sebagai sinyal positif bagi pembangunan daerah, sekaligus jawaban atas kebutuhan riil masyarakat NTT terhadap peningkatan kualitas dan ketersediaan layanan kesehatan.
Gubernur menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia kesehatan. Dengan hadirnya institusi pendidikan kedokteran, baik negeri maupun swasta, ia berharap rasio tenaga dokter—terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)—dapat ditingkatkan secara bertahap dan berkelanjutan.
Sementara itu, Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto menempatkan pendirian Fakultas Kedokteran UCB dalam konteks kebutuhan nasional. Mengacu pada data Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), ia menyebut rasio dokter di Indonesia masih berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk. Saat ini, satu dokter di Indonesia rata-rata masih melayani sekitar 1.400 hingga 1.600 penduduk.
Ia juga mengungkapkan bahwa RSUD S.K. Lerik Kota Kupang telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan sekaligus Rumah Sakit Pembina bagi Fakultas Kedokteran UCB. Menurutnya, dukungan rumah sakit daerah tersebut menjadi elemen krusial dalam menjamin kualitas pendidikan kedokteran, terutama pada fase pembelajaran klinik dan praktik lapangan.
Dengan fondasi kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan rumah sakit pendidikan, Fakultas Kedokteran UCB diharapkan mampu melahirkan dokter-dokter yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap mengabdi dan menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Nusa Tenggara Timur. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















