Ia menegaskan bahwa momentum peresmian fakultas ini tidak semata-mata bersifat seremonial, melainkan mencerminkan sikap institusional UCB untuk berada di garis depan dalam mencetak sumber daya manusia unggul, khususnya tenaga dokter yang kompeten dan berorientasi pada pelayanan publik.
Sebagai seorang dokter, Wali Kota Kupang juga menggarisbawahi dimensi kemanusiaan dalam praktik kedokteran. Menurutnya, ilmu kedokteran berada di persimpangan antara sains, pengalaman klinis, nurani, dan pengabdian. “Dua pasien dengan penyakit dan dosis yang sama bisa menunjukkan respons yang berbeda. Di situlah seni kedokteran bekerja—pada kepekaan, empati, dan tanggung jawab moral,” katanya.
Ia berharap Fakultas Kedokteran UCB mampu berkembang sebagai pusat pembelajaran yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dokter yang berintegritas, berempati, dan memiliki komitmen kuat untuk melayani masyarakat, khususnya di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
Pandangan serupa disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia menyebut kehadiran Fakultas Kedokteran UCB sebagai sinyal positif bagi pembangunan daerah, sekaligus jawaban atas kebutuhan riil masyarakat NTT terhadap peningkatan kualitas dan ketersediaan layanan kesehatan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














