Pelaksanaan Festival Budaya Fatukoa yang terintegrasi dalam kegiatan ini memperkuat pesan bahwa pendidikan harus berakar pada nilai-nilai kultural. Dalam kesempatan tersebut, Serena Francis mengenakan kain tenun khas Helong sebagai simbol afirmasi terhadap identitas lokal. Ia menegaskan bahwa budaya memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter dan arah kehidupan masyarakat. “Kalau kita kehilangan akar, kita akan kehilangan arah. Budaya adalah guru kehidupan dan fondasi karakter,” ujarnya.
Kepada para siswa, ia juga membagikan pengalaman pribadinya yang tidak selalu unggul secara akademik pada masa kecil. Pesan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh capaian nilai, melainkan oleh karakter, ketekunan, dan keberanian dalam meraih mimpi. “Masa depan tidak hanya dibangun oleh mereka yang paling pintar, tetapi oleh mereka yang punya karakter, keberanian, dan ketekunan. Jangan berhenti bermimpi,” pesannya.
Menutup sambutannya, Serena Francis mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Hardiknas sebagai titik konsolidasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan bermakna. Ia berharap, dari Fatukoa akan lahir generasi yang membawa harapan baru bagi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia secara luas. “Dari Fatukoa hari ini, kita berharap lahir cahaya-cahaya harapan bagi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia,” tutupnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















