Wali Kota Kupang : Takbiran Refleksi Spiritual

takbiran

ID, Kota Kupang – Pawai Kupang Bertakbir Season 3 yang digelar pada Jumat (20/3) malam di Kota Kupang berlangsung meriah dengan partisipasi sekitar 5.000 peserta. Kegiatan ini secara resmi dilepas oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, dan turut diwarnai dengan pembagian bingkisan Idul Fitri kepada sejumlah gereja yang dilalui peserta sebagai simbol nyata toleransi dan solidaritas antarumat beragama.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang, Bustaman, S.STP., M.M., dalam keterangannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat tahun ini, “Kasih di Hari yang Fitri”, tidak hanya merefleksikan keberhasilan menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menegaskan pentingnya memperkuat nilai kasih, persaudaraan, dan semangat saling memaafkan dalam kehidupan masyarakat yang plural.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan di Kota Kupang. Atas nama panitia, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kota Kupang, Forkopimda, serta berbagai elemen masyarakat dan komunitas lintas agama yang telah berkontribusi aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa kegiatan pawai takbiran tidak semata-mata dipahami sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai manifestasi refleksi spiritual yang memiliki dimensi sosial yang kuat. Hal ini disampaikannya saat menyambut peserta pawai di Bundaran Patung Tirosa.

Menurutnya, takbiran merupakan bentuk ekspresi keimanan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mengandung pesan moral untuk memperkuat nilai kemanusiaan seperti kasih, toleransi, dan penghormatan antarsesama. “Takbiran adalah refleksi batin yang menghadirkan nilai spiritual ke dalam ruang publik,” ujarnya.

Wali Kota juga menyoroti keterlibatan berbagai elemen lintas agama dalam kegiatan tersebut sebagai indikator nyata dari praktik toleransi yang inklusif. Ia menilai partisipasi komunitas gereja, termasuk penampilan paduan suara yang membawakan lagu bernuansa Islami, sebagai simbol integrasi sosial yang harmonis di Kota Kupang.

Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa keberagaman yang dimiliki Kota Kupang merupakan aset sosial yang harus dikelola secara konstruktif. Ia mengaitkan hal tersebut dengan capaian kota yang masuk dalam 10 besar Indeks Kota Toleran serta predikat sebagai Kota Damai dan Inklusif di tingkat nasional.

Dalam penjelasannya, Wali Kota menggambarkan harmoni sebagai keseimbangan yang lahir dari keberagaman, bukan keseragaman. Ia mengilustrasikan konsep tersebut melalui analogi seni, di mana perbedaan justru menjadi elemen pembentuk keindahan apabila disusun secara proporsional.

Ia juga mencontohkan praktik toleransi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat, seperti aktivitas berburu takjil di sekitar rumah ibadah lain tanpa mengganggu, serta inisiatif berbagi bingkisan kepada gereja-gereja yang dilalui peserta pawai. Menurutnya, hal tersebut mencerminkan internalisasi nilai persaudaraan lintas iman dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan, termasuk panitia, aparat keamanan, dan masyarakat. Ia juga mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada umat Muslim di Kota Kupang, seraya mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat kebersamaan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan unsur pemerintahan, di antaranya Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Kupang H. Muhammad MS, Ketua DPRD Kota Kupang Richard E. Odja, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, S.H., para pimpinan perangkat daerah, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Kupang H. Ali Muddin, tokoh lintas agama, serta masyarakat luas.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version