Dalam kunjungan itu, Paus tidak hanya hadir sebagai pemimpin agama, tetapi sebagai pelayan kemanusiaan. Ia terlihat membantu para biarawati membagikan makanan, menyerahkan piring kepada pasien yang masih mampu makan sendiri, hingga menyuapi mereka yang sudah terlalu lemah.
Ia juga mencium, memeluk, dan mendoakan para pasien satu per satu. Bahkan, Paus Yohanes Paulus II memberkati empat jenazah yang baru saja meninggal dunia, termasuk seorang anak—sebuah peristiwa yang meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir.
Menurut keterangan Vatikan, pengalaman tersebut begitu mengguncang emosi Paus hingga beberapa kali ia terdiam, tak sanggup merespons kata-kata Bunda Teresa yang setia mendampinginya.
“Hari Paling Bahagia” bagi Bunda Teresa
Bagi Bunda Teresa, peraih Nobel Perdamaian 1979, kunjungan Paus Yohanes Paulus II merupakan anugerah spiritual yang luar biasa. Ia menyebut hari itu sebagai “hari paling bahagia dalam hidup saya.”
“Kehadirannya memberi kekuatan bagi semua orang di sini. Sentuhannya adalah sentuhan Kristus,” ujar Bunda Teresa, menggambarkan makna simbolik dari lawatan tersebut.
Di hadapan umat yang berkumpul di luar gedung, Paus Yohanes Paulus II menyampaikan refleksi singkat. Ia menggambarkan Nirmal Hriday sebagai “rumah harapan, tempat yang dibangun di atas iman dan keberanian, di mana kasih menjadi hukum tertinggi.”
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














