ID, Jakarta – Pasar aset kripto kembali diguncang volatilitas tinggi setelah harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam hingga menyentuh kisaran US$74.000. Meski sempat tertekan, aset kripto terbesar di dunia itu kemudian memantul dan bergerak naik ke level sekitar US$77.000.
Tekanan harga tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen global, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah hingga penguatan dolar Amerika Serikat menyusul proses nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve. Kondisi tersebut mendorong investor global melakukan penyesuaian portofolio dan meningkatkan sikap kehati-hatian.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai Bitcoin kerap menjadi aset yang paling cepat merespons kepanikan global. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik pasar kripto yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam dan minim jeda likuiditas.
Namun demikian, Antony mengungkapkan adanya fenomena menarik di balik gejolak harga tersebut. Berdasarkan data on-chain dari Glassnode, perilaku investor kripto menunjukkan pola yang kontras antar kelompok. Saat sebagian pelaku pasar melepas asetnya karena diliputi ketakutan, kelompok investor bermodal besar justru mengambil posisi berlawanan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
