ID, Jakarta – Nilai tukar Rupiah memulai perdagangan Selasa (3/3/2026) dengan penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), meskipun mata uang Negeri Paman Sam tersebut masih menunjukkan tren menguat di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.830 per dolar AS atau terapresiasi 0,15 persen. Posisi ini berbalik arah dibandingkan penutupan sebelumnya, ketika rupiah melemah 0,57 persen dan berakhir di Rp16.855 per dolar AS.
Dolar Masih Perkasa di Pasar Global
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) hingga pukul 09.00 WIB tercatat naik 0,11 persen ke level 98,490. Sehari sebelumnya, indeks tersebut bahkan melonjak 0,79 persen dan ditutup di 98,381—menjadi salah satu penguatan harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Penguatan dolar terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu. Situasi ini mendorong pelaku pasar global mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman.
Dalam kondisi ketidakpastian global, dolar AS kembali menunjukkan perannya sebagai aset safe haven. Permintaan terhadap greenback meningkat seiring kecenderungan investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih stabil.
Sentimen Global Masih Dominan
Reli dolar yang terjadi pasca eskalasi konflik menandai kembalinya pola klasik “risk-off” di pasar keuangan global. Sebelumnya, sempat muncul keraguan terhadap kekuatan dolar sebagai pelindung nilai ketika gejolak pasar terjadi, terutama saat mata uang tersebut tidak terlalu responsif dalam tekanan global akibat kebijakan tarif besar tahun lalu. Namun perkembangan terbaru menunjukkan dolar kembali mendapatkan momentum ketika ketidakpastian meningkat.
Penguatan indeks dolar terhadap mayoritas mata uang dunia berpotensi memberi tekanan lanjutan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Oleh karena itu, arah pergerakan rupiah hari ini dinilai masih sangat bergantung pada dinamika dolar AS dan perkembangan situasi geopolitik global.
Pelaku pasar domestik diperkirakan akan mencermati perkembangan eksternal secara ketat, mengingat volatilitas dapat meningkat sewaktu-waktu apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
