Secara keseluruhan, gerhana ini akan berlangsung selama sekitar 271 menit. Pada puncaknya, Bulan akan menutupi sekitar 96 persen permukaan Matahari. Bagi pengamat yang berada tepat di jalur pusat gerhana, tampilan “cincin api” akan terlihat selama kurang lebih 2 menit 20 detik.
Istilah gerhana Matahari cincin berasal dari kata Latin annulus, yang berarti cincin, merujuk pada cahaya Matahari yang tersisa di tepi piringan saat fase maksimum. Meski tidak segelap gerhana Matahari total, fenomena ini tetap menjadi salah satu peristiwa langit yang paling dinanti oleh pengamat astronomi.
Berdasarkan data Time and Date, wilayah yang berpotensi menyaksikan gerhana ini—baik dalam bentuk cincin maupun sebagian—mencakup Antarktika, Argentina, Chile, Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Zambia, Tanzania, Madagaskar, Mauritius, Seychelles, hingga sejumlah wilayah kepulauan di Samudra Hindia dan Atlantik Selatan.
Para ahli mengingatkan bahwa pengamatan gerhana Matahari cincin tidak aman dilakukan dengan mata telanjang. Penggunaan kacamata khusus gerhana atau filter Matahari yang sesuai standar menjadi syarat utama untuk mencegah kerusakan mata permanen.
Bagi masyarakat di wilayah yang dilalui jalur gerhana, peristiwa ini bukan sekadar tontonan langit, melainkan pengingat tentang dinamika kosmik yang terus berlangsung—bahwa pergerakan Matahari, Bulan, dan Bumi sesekali berpadu menciptakan pemandangan yang hanya hadir dalam hitungan menit, namun meninggalkan kesan mendalam bagi yang menyaksikannya. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












