ID, Jakarta – Eskalasi konflik di Timur Tengah dan ditutupnya selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Namun, negara yang dinilai paling rentan terdampak gangguan suplai minyak kawasan tersebut bukanlah China.
Meski China merupakan konsumen minyak terbesar dunia setelah Amerika Serikat, sejumlah analis menilai posisi India jauh lebih rapuh jika gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah berlangsung berkepanjangan.
Cadangan Energi Jadi Pembeda
Baik China maupun India sama-sama menggantungkan sekitar setengah kebutuhan impor minyak mentahnya dari Timur Tengah. Namun, ketahanan keduanya berbeda signifikan dari sisi cadangan.
Direktur Energi dan Pengolahan ICIS Ajay Parmar, seperti dikutip Reuters, menyebut China memiliki stok minyak mentah yang diperkirakan cukup untuk setidaknya enam bulan. Sebaliknya, cadangan India jauh lebih terbatas, sehingga membuatnya lebih rentan menghadapi guncangan pasokan.
India juga tercatat sebagai konsumen minyak dengan pertumbuhan tercepat saat ini. Ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah bahkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah kilang-kilang India mengurangi pembelian minyak Rusia akibat tekanan kebijakan dari Washington.
Per Januari 2026, sekitar 55 persen impor minyak mentah India—setara 2,74 juta barel per hari—berasal dari kawasan Timur Tengah. Proporsi ini menjadi yang tertinggi sejak akhir 2022.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Kekhawatiran pasar meningkat setelah konflik antara Iran dan koalisi Israel–AS memicu eskalasi yang berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Gangguan di jalur strategis itu langsung mendorong harga minyak global. Harga Brent melonjak sekitar 7 persen pada perdagangan Senin (2/3). Jika konflik berkepanjangan, tekanan harga energi dikhawatirkan akan semakin tajam.
Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri sebelumnya menyatakan negaranya memiliki kapasitas penyimpanan minyak dan bahan bakar sekitar 74 hari. Namun sumber di sektor pengilangan menyebut stok riil kemungkinan hanya cukup untuk 20–25 hari.
Apabila gangguan pasokan berlanjut, New Delhi berpotensi mencari sumber alternatif di luar Timur Tengah. Pemerintah India menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjamin ketersediaan energi dengan harga terjangkau.
Asia Paling Terdampak
Secara umum, Asia menyerap hampir 90 persen ekspor minyak Timur Tengah. Jepang dan Korea Selatan juga sangat bergantung pada kawasan tersebut, masing-masing sekitar 95 persen dan 70 persen dari total kebutuhan impor. Meski demikian, kedua negara memiliki cadangan energi yang jauh lebih besar—Jepang setara 254 hari konsumsi dan Korea Selatan sekitar 208 hari.
Sementara itu, Eropa dan AS memang tidak lagi menjadi pembeli utama minyak mentah Timur Tengah. Tahun lalu, AS mengimpor kurang dari 900 ribu barel per hari dari negara-negara Teluk. Namun, keduanya tetap berisiko terdampak melalui lonjakan harga minyak global jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama.
Analis Kpler Matt Smith menambahkan Eropa berpotensi menghadapi kesulitan pasokan bahan bakar jet, mengingat kawasan Teluk menyumbang sekitar 45 persen impor bahan bakar jet Eropa melalui jalur laut.
Apabila konflik berlarut dan jalur distribusi utama tidak dapat digunakan dalam waktu lama, persaingan global untuk mendapatkan tambahan pasokan minyak diperkirakan akan semakin ketat. Dalam situasi tersebut, negara dengan cadangan paling tipis dan ketergantungan terbesar akan menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
