Utang ke IMF Masih Membengkak pada 2026, Argentina Teratas dengan Beban Hampir Rp1.000 Triliun

imf

ID, Idealis – Ketergantungan sejumlah negara terhadap pembiayaan Dana Moneter Internasional (IMF) masih tinggi memasuki 2026, mencerminkan tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda. Data terbaru per akhir Januari 2026 menunjukkan total kredit IMF yang masih beredar mencapai sekitar SDR 119,7 miliar, setara dengan kurang lebih US$165 miliar.

Dengan asumsi nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.800 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp2.770 triliun—angka yang menggambarkan skala dukungan likuiditas IMF terhadap negara-negara anggota yang tengah menghadapi tekanan fiskal dan eksternal.

Argentina kembali menempati posisi teratas sebagai peminjam terbesar IMF. Negara Amerika Latin itu tercatat memiliki utang sekitar SDR 41,79 miliar atau setara US$57,7 miliar, mendekati Rp970 triliun. Jaraknya dengan negara peminjam lain masih sangat lebar, menandakan ketergantungan Argentina terhadap pembiayaan IMF tetap signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Di urutan kedua terdapat Ukraina, dengan total kewajiban sekitar SDR 10,08 miliar atau setara US$13,9 miliar, sekitar Rp234 triliun. Beban utang tersebut mencerminkan tekanan luar biasa yang dihadapi Ukraina di tengah konflik bersenjata berkepanjangan dengan Rusia, yang telah berlangsung sejak Februari 2022 dan kini memasuki tahun keempat.

Pakistan dan Ekuador menyusul di bawahnya, masing-masing dengan utang di kisaran US$10 miliar serta US$9 hingga US$10 miliar. Mesir juga masih bertahan dalam kelompok lima besar peminjam IMF, dengan total kewajiban mendekati US$8 miliar.

Daftar sepuluh besar peminjam IMF turut diisi sejumlah negara Afrika, termasuk Pantai Gading, Kenya, Ghana, dan Angola. Dari Asia, Bangladesh masih tercatat sebagai salah satu negara dengan utang aktif ke lembaga tersebut. Komposisi ini menegaskan bahwa tekanan ekonomi global—mulai dari defisit transaksi berjalan, pelemahan nilai tukar, hingga dampak berkelanjutan kenaikan harga pangan dan energi—masih membebani banyak negara berkembang.

Dalam laporan tersebut, IMF menggunakan satuan Special Drawing Rights (SDR), instrumen cadangan internasional yang nilainya ditentukan berdasarkan keranjang mata uang utama dunia: dolar Amerika Serikat, euro, yuan China, yen Jepang, dan poundsterling Inggris. Nilai SDR terhadap dolar AS dapat berfluktuasi mengikuti dinamika pasar valuta asing global.

Sebagai lembaga keuangan internasional, IMF berperan menyediakan pembiayaan bagi negara anggota untuk menjaga stabilitas ekonomi, menstabilkan nilai tukar, serta mendukung pelaksanaan reformasi struktural. Dalam kondisi krisis, fasilitas IMF kerap menjadi jangkar terakhir bagi negara-negara yang kesulitan mengakses pendanaan dari pasar global.

Namun, dengan total kredit yang masih mencapai ratusan miliar dolar AS, tantangan besar tetap membayangi negara-negara peminjam, khususnya terkait keberlanjutan fiskal dan kemampuan membayar kembali kewajiban mereka. Di sisi lain, bagi IMF sendiri, kelancaran pengembalian pinjaman menjadi faktor krusial untuk menjaga kredibilitas dan kapasitas lembaga dalam menopang stabilitas sistem keuangan global. red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version