“Ini seperti uji kesaktian Jokowi setelah tidak lagi menjadi presiden dan tidak berada di PDIP. Kalau PSI lolos, Jokowi disebut masih sakti. Kalau tidak, kritik akan datang dari berbagai arah,” jelasnya.
Meski demikian, Adi menekankan bahwa keberhasilan PSI tidak semata-mata ditentukan oleh figur Jokowi. Menurutnya, faktor paling menentukan tetap berada pada kerja politik di lapangan dan kemampuan partai menjangkau pemilih akar rumput.
“Politik pada akhirnya soal meyakinkan rakyat, terutama pemilih di lapisan bawah. Jokowi memberi energi besar, tapi kuncinya tetap pada kerja organisasi dan konsistensi turun ke masyarakat,” katanya.
Adi juga menilai keberpihakan terbuka Jokowi kepada PSI memiliki konsekuensi ganda. Di satu sisi, kehadiran Jokowi menjadi modal elektoral yang kuat. Namun di sisi lain, PSI harus cermat mengelola resistensi publik terhadap Jokowi, sembari mengemas narasi positif dari rekam jejaknya.
“PSI selama ini identik dengan pemilih perkotaan. Tantangan terbesarnya adalah menembus pemilih desa yang jumlahnya jauh lebih besar. Tanpa penetrasi ke desa, efek Jokowi tidak akan maksimal,” ungkap Adi.
Ia mengingatkan bahwa pada Pemilu 2024, PSI sebenarnya sudah mulai memanfaatkan figur Jokowi, antara lain melalui penggunaan atribut kampanye dengan slogan ‘PSI Partai Jokowi’. Namun strategi tersebut dinilai belum dijalankan secara agresif dan konsisten.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
