Bagi Pemerintah Kota Kupang, komunitas seperti IKN bukan sekadar ruang silaturahmi. Ia adalah simpul ide, gagasan, dan kritik yang sehat. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” tegas Wali Kota. Sebuah pengakuan jujur bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya mungkin lahir dari kolaborasi.
Lalu, bagaimana Kota Kupang hari ini?
Dalam delapan bulan pertama kepemimpinannya, sejumlah capaian dicatat: masuk 10 besar Indeks Kota Toleran Indonesia, penghargaan Kota Damai dan Inklusif, TP2DD Terbaik dari Bank Indonesia, hingga tingkat kepuasan publik sebesar 80,1 persen berdasarkan survei independen Undana. Namun, bagi Wali Kota, angka-angka itu bukan panggung untuk berpuas diri, melainkan cermin tanggung jawab yang semakin besar.
“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” ujarnya mengutip sebuah filosofi. Kota Kupang, katanya, memilih berjalan jauh—melintasi tantangan sosial, ekonomi, dan perubahan global yang kian kompleks.
Di sinilah diaspora seperti IKN menemukan perannya. Akademisi, profesional, tenaga kesehatan, dan berbagai latar belakang yang dimiliki keluarga besar Ngalupolo adalah kekayaan perspektif yang dibutuhkan agar kebijakan publik benar-benar lahir dari bawah, dari denyut kebutuhan masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




