BMKG menjelaskan, peningkatan aktivitas cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer global dan regional. Aktifnya Monsun Asia, disertai perlintasan gelombang atmosfer skala besar seperti Low Frequency, Rossby, dan Kelvin, menjadi pemicu utama meningkatnya curah hujan di wilayah Jawa Timur.
Selain itu, kondisi suhu muka laut yang relatif hangat di perairan Selat Madura serta atmosfer yang tidak stabil turut mempercepat pembentukan awan konvektif. Awan jenis ini berpotensi menghasilkan hujan lebat dalam waktu singkat yang disertai kilat dan angin kencang.
BMKG juga mencatat adanya peningkatan kecepatan angin berdasarkan analisis angin gradien lapisan 3.000 kaki. Pada akhir Januari lalu, angin dominan bertiup dari arah barat dengan pola pertemuan angin atau konvergensi, serta kecepatan yang mencapai sekitar 20 knot di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Saat ini, Jawa Timur berada pada fase puncak musim hujan. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, terutama di wilayah dengan topografi curam dan daerah aliran sungai. Warga yang tinggal di kawasan perbukitan, pegunungan, atau dekat tebing diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor, banjir bandang, serta gangguan lain seperti jalan licin, pohon tumbang, dan berkurangnya jarak pandang.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
