Menurutnya, meskipun masyarakat di wilayah tersebut telah memiliki pengalaman menghadapi banjir, kegiatan simulasi tetap diperlukan guna memastikan setiap proses penanganan berjalan secara terstruktur, terkoordinasi, dan efektif.
Lebih lanjut, Wakil Bupati mendorong agar model kegiatan serupa dapat direplikasi di seluruh wilayah Kabupaten Kupang, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Ia menilai bahwa pendekatan sistematis dalam mitigasi bencana perlu diperkuat melalui perencanaan berbasis data dan pemetaan risiko.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah ketersediaan peta ancaman bencana, peta risiko, serta jalur evakuasi yang jelas dan terintegrasi. Hal ini dinilai penting untuk menjamin keselamatan masyarakat ketika terjadi bencana.
“Saya melihat dalam simulasi ini sudah tersedia peta ancaman dan peta risiko. Ini harus menjadi standar di seluruh wilayah, karena setiap daerah memiliki karakteristik bencana yang berbeda,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi saat simulasi tidak sepenuhnya merepresentasikan situasi nyata ketika bencana terjadi. Oleh karena itu, kesiapan mental, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor kunci dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















