Sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas siswa, Gubernur turut melakukan pembelian langsung produk hasil karya pelajar, termasuk mesin pencacah pakan ternak (Rp3,5 juta), alat jemur pakaian (Rp600 ribu), alat tenun (Rp1,25 juta), dan kompor berbahan oli bekas (Rp500 ribu), selain berbagai makanan, minuman, dan kain tenun lainnya.
Menurutnya, NTT Mart berperan ganda: selain sebagai tempat pemasaran produk, juga sebagai laboratorium kewirausahaan, di mana siswa memperoleh pengalaman praktis mengelola produksi, menjaga kualitas, mengatur keuangan, dan memasarkan produk secara mandiri. Gubernur Melki mendorong setiap sekolah di NTT untuk memiliki minimal satu produk unggulan yang dapat dipasarkan, baik melalui NTT Mart maupun platform digital, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan sektor perbankan dalam hal akses permodalan.
Wakil Bupati Timor Tengah Utara, Kamillus Elu, menambahkan bahwa SMK perlu menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan.
“SMK dipersiapkan untuk bekerja, bukan sekadar mencari pekerjaan. Kehadiran NTT Mart ini menjadi laboratorium kewirausahaan yang nyata bagi siswa,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan program agar NTT Mart dapat berkembang menjadi pusat pemasaran produk sekolah yang dikenal luas masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














