Pemilihan lokasi kegiatan di wilayah pinggiran Kota Kupang dinilai sebagai langkah strategis dalam mewujudkan pemerataan akses dan perhatian terhadap sektor pendidikan. Menurutnya, pendekatan berbasis realitas lapangan menjadi penting untuk memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak terpusat, melainkan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “Kita ingin melihat langsung kondisi riil di lapangan. Pendidikan harus hadir untuk semua, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di pinggiran,” tegasnya.
Mengacu pada tema nasional “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Serena menyoroti pentingnya keterlibatan multipihak dalam proses pendidikan. Ia mengilustrasikan konsep tersebut melalui pepatah “it takes a village to raise a child”, yang menurutnya terefleksikan secara nyata dalam keterlibatan semua unsur sosial masyarakat di Fatukoa. “Inilah wajah pendidikan yang sesungguhnya, pendidikan yang hidup karena kebersamaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan urgensi transformasi paradigma pendidikan di tengah dinamika zaman. Guru, menurutnya, tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator yang mendorong pengembangan potensi dan kreativitas peserta didik. Ia juga menegaskan pentingnya memberikan ruang partisipatif bagi anak-anak sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. “Anak-anak kita bukan objek, tetapi subjek yang aktif, kreatif, dan berani bermimpi,” tambahnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















