“It’s a big honor for me to be here,” ucapnya dalam bahasa Inggris, lalu beralih ke bahasa Indonesia dengan suara yang melembut. “Lingkungan yang Anda ciptakan di sini sangat menyentuh bagi saya. Saya berharap ke depan ada agenda-agenda yang bisa kita kerja samakan, supaya anak-anak kita tidak hanya tampil di panggung sekolah ini, tetapi mungkin juga di panggung yang lebih besar.”
Di situlah letak lapisan paling halus dari perayaan Paskah tahun ini: ia bukan hanya tentang kebangkitan iman, tetapi juga tentang kebangkitan harapan terhadap sistem pendidikan.
Kolaborasi, Bukan Monolog
Acara itu turut dihadiri oleh Pendeta Edward Dethan selaku pimpinan EIS, dua guru asal Australia yang menjadi tenaga pengajar tetap, perwakilan Camat Kupang Tengah, serta kepala desa dari Mata Air dan Noelbaki. Kehadiran lintas elemen ini menegaskan satu hal yang kerap dilupakan dalam wacana pembangunan daerah: reformasi pendidikan tidak pernah berhasil jika hanya menjadi monolog pemerintah atau semangat isolasi sebuah sekolah.
Kolaborasi multipihak — antara sekolah, gereja, pemerintah kecamatan, hingga masyarakat desa — adalah fondasi yang selama ini sunyi tetapi terbukti ampuh.
Penutup: Sebuah Tesis untuk Kabupaten Kupang Emas
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















