Kurikulum yang Melampaui Angka
Selama puluhan tahun, kritik paling tajam terhadap sistem persekolahan di Indonesia kerap bermuara pada satu hal: terlalu terpaku pada hafalan dan nilai ujian. Model seperti itu, para pendidik progresif berargumen, melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif namun lumpuh dalam hal keberanian berekspresi.
EIS menawarkan narasi yang berseberangan. Dalam dua jam pertunjukan Paskah, para siswa — termasuk yang berusia tujuh tahun — memperlihatkan kapasitas yang biasanya hanya ditemukan di sekolah-sekolah berbiaya mahal di kota-kota besar. Mereka bernyanyi dalam bahasa Inggris dengan pelafalan yang mantap. Mereka memainkan alat musik tradisional dan modern dalam satu aransemen yang harmonis. Mereka berakting di atas panggung seolah-olah sedang bercerita tentang hidup mereka sendiri.
Dari kacamata psikologi perkembangan, apa yang terjadi di aula itu adalah demonstrasi nyata dari ekosistem pembelajaran holistik: sebuah pendekatan yang tidak memisahkan kecerdasan intelektual dari kecerdasan emosional dan keterampilan fisik.
“Sekolah ini berhasil melakukan sesuatu yang sulit,” kata Aurum. “Mereka menciptakan ruang di mana anak-anak tidak takut untuk terlihat. Rasa tidak takut itulah fondasi dari semua pembelajaran.”
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















