“Kami memulai dari dalam, dari pegawai sendiri, kemudian mengajak pihak luar untuk bergerak bersama. Prinsipnya sederhana: bergerak perlahan, konsisten, dan dilakukan secara kolektif,” katanya.
Dukungan terhadap gerakan tanam air juga datang dari Perwakilan Sinode GMIT, Pdt. Yunus Kay Tulang. Ia membagikan pengalaman keberhasilan penerapan gerakan serupa di lingkungan gereja.
Menurutnya, setelah dilakukan aksi tanam air, sejumlah sumur yang sebelumnya kering saat musim kemarau kini tidak lagi mengalami kekeringan, bahkan menunjukkan peningkatan debit air.
“Air yang kita gunakan hari ini bukan warisan dari leluhur, tetapi pinjaman dari anak cucu kita. Karena itu, jangan dihabiskan, melainkan dikembalikan ke rumahnya, ke dalam tanah,” tegasnya.
Ia menilai bahwa gerakan tanam air yang sederhana namun dilakukan secara konsisten dan dengan kesadaran kolektif akan memberikan dampak signifikan bagi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, Perumda Air Minum, lembaga keagamaan, serta masyarakat, Program BERGETAR diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan ketahanan air dan lingkungan yang berkelanjutan di Kota Kupang. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














