RSUP Ben Mboi Benahi Citra Pelayanan Rumah Sakit Pemerintah, Prioritaskan Akses dan Kenyamanan Pasien

Avatar photo
rsup

ID, KUPANG — Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Ben Mboi memperkuat komitmennya untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat. Melalui pembenahan fasilitas, inovasi layanan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor, rumah sakit rujukan tersebut berupaya mengikis stigma bahwa rumah sakit pemerintah identik dengan lingkungan yang kurang terawat, pelayanan yang tidak nyaman, dan biaya pengobatan yang mahal.

Komitmen itu disampaikan jajaran manajemen RSUP Ben Mboi dalam wawancara bersama sejumlah media daring di ruang kerja manajemen, Jumat (16/10/2026).

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/10/Untitled-image-11.png
Scroll kebawah untuk lihat konten

Direktur Utama RSUP Ben Mboi, Dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Sp.An., didampingi Direktur Perencanaan Keuangan dan Layanan Operasional (PKLO), Rilly Roemokoy, S.E., M.M., serta Manajer Hubungan Masyarakat dan Hukum (Hukmas), dr. Elisa Laura Sitohang, Sp.PA., menjelaskan bahwa pengembangan fasilitas rumah sakit tidak semata-mata ditujukan untuk memperkuat infrastruktur medis, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung kenyamanan psikologis pasien dan keluarga.

Menurut manajemen, kemegahan gedung dan modernisasi fasilitas RSUP Ben Mboi merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kehadiran infrastruktur yang representatif tersebut tidak seharusnya menimbulkan persepsi bahwa layanan rumah sakit menjadi semakin mahal atau sulit dijangkau masyarakat.

Sebaliknya, peningkatan kualitas fasilitas diharapkan berjalan beriringan dengan perluasan akses pelayanan, kepastian penanganan medis, dan perlindungan terhadap hak pasien.

Utamakan penanganan pasien dalam kondisi darurat

Salah satu prinsip pelayanan yang ditekankan RSUP Ben Mboi adalah mendahulukan keselamatan pasien, khususnya dalam kondisi kegawatdaruratan medis. Rumah sakit ini melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan sesuai ketentuan dan cakupan manfaat yang berlaku, termasuk untuk pelayanan rawat jalan, rawat inap, tindakan operasi, dan kemoterapi sesuai indikasi medis serta prosedur yang ditetapkan.

“Prinsip kami adalah menolong pasien terlebih dahulu, terutama dalam kondisi gawat darurat. Urusan administrasi dan pembiayaan bisa diselesaikan di belakang. Kami tidak ingin ada masyarakat yang takut berobat atau memilih pasrah di rumah karena kendala biaya,” ujar Robinzon.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keselamatan pasien sebagai prioritas dalam pelayanan kesehatan. Dalam situasi darurat, kecepatan penanganan menjadi faktor krusial untuk mencegah perburukan kondisi pasien dan mengurangi risiko komplikasi.

Untuk memperluas akses terhadap pelayanan medis, RSUP Ben Mboi juga menjalankan program antar-jemput pasien menggunakan ambulans yang telah berlangsung hampir dua tahun. Layanan ini diprioritaskan bagi pasien di wilayah Kota Kupang yang mengalami keterbatasan mobilitas berat, termasuk penderita stroke dan pasien yang tidak sadarkan diri.

Selain menjangkau pasien di dalam kota, rumah sakit membuka koordinasi penjemputan pasien rujukan dari luar pulau, antara lain Alor, Rote, Flores, dan Sumba. Penjemputan dilakukan melalui koordinasi dengan pihak terkait di pelabuhan ketika kapal tiba, guna membantu mengatasi kendala transportasi yang kerap dihadapi pasien dari daerah.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesinambungan pelayanan, terutama bagi masyarakat yang harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh penanganan medis di rumah sakit rujukan tingkat lanjut.

Taman penyembuhan dan fasilitas bagi keluarga pasien

Selain memperkuat pelayanan medis, RSUP Ben Mboi mengembangkan fasilitas penunjang yang berorientasi pada kenyamanan pasien dan keluarga. Salah satunya adalah pembangunan healing garden atau taman penyembuhan yang masih dalam tahap penyelesaian.

Taman tersebut dirancang dengan akses yang terintegrasi bagi pengguna kursi roda agar dapat dimanfaatkan pasien dengan keterbatasan mobilitas. Keberadaan ruang terbuka ini diharapkan memberikan suasana yang lebih nyaman bagi pasien, khususnya mereka yang menjalani perawatan dalam jangka waktu panjang.

Pendekatan tersebut mencerminkan perhatian terhadap aspek psikososial dalam pelayanan kesehatan. Lingkungan yang tertata, aksesibilitas yang baik, dan ruang terbuka yang nyaman dapat menjadi elemen pendukung pengalaman pasien selama menjalani perawatan, meskipun tidak menggantikan terapi dan tindakan medis yang diperlukan.

RSUP Ben Mboi juga tengah merampungkan pembangunan area istirahat khusus bagi keluarga pasien di bagian belakang kompleks rumah sakit. Fasilitas yang dirancang menyerupai los atau ruang komunal tersebut disiapkan untuk mengakomodasi keluarga yang mendampingi pasien, termasuk mereka yang datang dari wilayah kabupaten dan luar pulau.

Kebutuhan tersebut berkaitan dengan karakteristik sosial masyarakat NTT yang kerap datang bersama anggota keluarga ketika mengantar pasien untuk mendapatkan perawatan.

Area istirahat itu direncanakan dilengkapi ruang santai, akses air minum, kamar mandi, serta pengeras suara yang terhubung dengan ruang perawatan utama. Sistem tersebut diharapkan memudahkan penyampaian informasi kepada keluarga tanpa harus membuat mereka terus-menerus berkumpul di sekitar ruang perawatan.

Penataan fasilitas keluarga juga diharapkan menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan rumah sakit. Dengan tersedianya ruang tunggu yang lebih layak, aktivitas pendampingan pasien dapat berlangsung secara lebih terorganisasi.

Pada sisi lain, rumah sakit turut mengembangkan kantin dengan konsep modern yang mengutamakan kebersihan dan kenyamanan. Pembenahan fasilitas nonmedis tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pelayanan yang lebih manusiawi bagi pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan.

Perkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah

Dalam upaya memperluas jangkauan pelayanan, RSUP Ben Mboi membangun kemitraan dengan sejumlah lembaga, antara lain Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), yayasan yang bergerak dalam penanganan kanker, serta Dinas Sosial.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung penanganan pasien dengan kebutuhan khusus, termasuk korban kekerasan dan masyarakat yang membutuhkan dukungan sosial selama menjalani perawatan.

Rumah sakit juga menjajaki penguatan sinergi dengan Wali Kota Kupang dan jajaran Pemerintah Kota Kupang guna mempermudah akses rujukan bagi warga yang menghadapi kendala jarak menuju fasilitas kesehatan.

Koordinasi antara rumah sakit rujukan nasional dan pemerintah daerah dinilai penting untuk memperkuat keterhubungan sistem pelayanan kesehatan, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan lanjutan.

Dengan mekanisme rujukan yang lebih terkoordinasi, pasien diharapkan dapat memperoleh penanganan sesuai tingkat kebutuhan medisnya tanpa menghadapi hambatan administratif maupun keterlambatan yang sebenarnya dapat dihindari.

Penguatan rumah sakit daerah untuk mengurangi penumpukan pasien

Sebagai rumah sakit rujukan tingkat lanjut dengan kapasitas 220 tempat tidur, RSUP Ben Mboi menghadapi tantangan berupa tingginya kebutuhan pelayanan pasien dengan kasus medis kompleks. Kondisi tersebut dapat berdampak pada lamanya masa perawatan dan meningkatnya tekanan terhadap kapasitas Unit Gawat Darurat (UGD).

Penumpukan pasien di rumah sakit rujukan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah kapasitas tempat tidur. Penguatan kemampuan rumah sakit daerah untuk menangani kasus sesuai kompetensi dan fasilitas yang tersedia juga menjadi bagian penting dari solusi.

Untuk mendukung upaya tersebut, RSUP Ben Mboi mengoptimalkan program pengampuan pelayanan medis yang dimandatkan Kementerian Kesehatan. Dalam skema ini, RSUP Ben Mboi bersama RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang berperan dalam membina dan meningkatkan kapasitas pelayanan rumah sakit di tingkat kabupaten dan daerah sesuai penugasan serta bidang layanan yang ditetapkan.

Program pengampuan diharapkan memperkuat kompetensi tenaga medis, meningkatkan standar pelayanan, dan membantu pemerataan kemampuan fasilitas kesehatan di wilayah NTT.

Melalui peningkatan kapasitas rumah sakit daerah, kasus yang dapat ditangani sesuai kompetensi dan sarana setempat diharapkan tidak seluruhnya harus dirujuk ke Kota Kupang. Dengan demikian, rumah sakit rujukan tingkat lanjut dapat lebih berkonsentrasi menangani kasus kompleks yang membutuhkan kompetensi khusus dan fasilitas yang lebih lengkap.

Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan memerlukan kerja sama antarfasilitas kesehatan, pemerintah, dan lembaga terkait.

Pada akhirnya, transformasi RSUP Ben Mboi tidak hanya diukur dari kemegahan gedung maupun kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari kemampuannya memberikan pelayanan yang responsif, menjaga keselamatan pasien, memperluas akses masyarakat, serta memperkuat sistem rujukan di Nusa Tenggara Timur.

Melalui pembenahan internal dan kolaborasi lintas sektor, RSUP Ben Mboi berupaya menjadikan peningkatan kualitas pelayanan sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat secara lebih inklusif dan berkeadilan. (Red)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan