Namun di balik indikator makro yang positif, angka kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pada September 2025, persentase penduduk miskin tercatat 17,50 persen atau sekitar 1.031.690 jiwa. Meski angka ini menurun 1,52 poin persen dari 19,02 persen pada September 2024, keberadaan lebih dari satu juta warga dalam kategori miskin menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi agregat belum sepenuhnya merata.
Pemerintah mengaitkan penurunan angka kemiskinan dengan penguatan bantuan sosial, stabilitas inflasi pangan, perbaikan harga komoditas, dan meningkatnya aktivitas ekonomi di tingkat desa. Gini Ratio yang tercatat 0,322 menunjukkan ketimpangan pengeluaran berada pada kategori sedang, dengan tantangan kesenjangan antarwilayah, terutama antara perkotaan-perdesaan dan pulau besar-pulau kecil.
Paradoks Data Stunting
Di sektor kesehatan, persoalan stunting menjadi sorotan utama. Pemerintah menyampaikan dua data yang kontras. Berdasarkan data elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di NTT tercatat 20,2 persen atau sekitar 65.336 balita. Secara persentase, angka ini menunjukkan penurunan, namun secara absolut jumlah balita stunting justru meningkat dibanding tahun 2024 yang tercatat 64.507 balita.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.















