Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat dijalankan secara parsial oleh pemerintah saja. Diperlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari masyarakat, lembaga keagamaan, organisasi sosial, hingga aktor politik.
“Pembangunan membutuhkan kerja bersama. Tidak bisa dilakukan sendiri. Semua pihak harus terlibat agar hasilnya optimal,” tegasnya.
Dalam konteks dinamika global, seperti fluktuasi harga energi dan tekanan ekonomi internasional, ia mengingatkan pentingnya solidaritas sosial sebagai strategi adaptif dalam menghadapi ketidakpastian.
Selain itu, Wali Kota juga menyampaikan apresiasi kepada Perum Bulog atas kontribusinya dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi pangan di daerah.
Dari sisi capaian program, terjadi peningkatan signifikan jumlah penerima bantuan pada tahun 2026. Di Kota Kupang, penerima manfaat meningkat dari sekitar 21 ribu pada tahun sebelumnya menjadi 39.809 penerima, atau naik lebih dari 80 persen. Perluasan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang memperluas cakupan dari desil 1–3 menjadi desil 1–4.
Program bantuan pangan ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan sosial, tetapi juga memiliki implikasi makroekonomi, terutama dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















