Wali Kota Lantik Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang

Avatar photo
Wali Kota PHBI
Sumber : ProkopimKotaKupang

ID, Kota Kupang – Wali Kota Kupang, Christian Widodo, secara resmi melantik jajaran pengurus Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Kupang untuk masa bakti 2025–2030. Prosesi pelantikan tersebut berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang pada Sabtu (14/3), dengan Bustaman, S.STP, M.M., ditetapkan sebagai Ketua PHBI bersama struktur kepengurusan yang baru.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah unsur penting, antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Kupang H. Muhammad MS, anggota DPRD Kota Kupang Amiruddin La Oda, Muhammad Ramli, dan Ahmad Thalib, Ketua Dewan Masjid Indonesia H. Alimuddin, perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Kupang Hengky C. Malelak, S.STP., M.Si., serta para pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Kupang.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa pelantikan tersebut memiliki dimensi substantif yang melampaui sekadar agenda seremonial. Ia menekankan adanya tanggung jawab etis dan sosial bagi PHBI untuk terus berperan aktif di tengah masyarakat, khususnya dalam memperkuat kohesi sosial dan merawat keberagaman di Kota Kupang.

“Pelantikan ini bukan hanya formalitas administratif, tetapi mengandung tanggung jawab moral agar PHBI senantiasa hadir sebagai pengikat keberagaman serta penjaga nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi PHBI yang selama ini dinilai konsisten dalam mendukung pemerintah daerah menjaga harmoni antarumat beragama. Menurutnya, Kota Kupang telah dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi prinsip toleransi dan inklusivitas sebagai fondasi kehidupan sosial.

“Keberagaman bukanlah faktor pemisah, melainkan modal sosial yang memperkuat persatuan. Perbedaan justru menjadi jembatan untuk mempererat kebersamaan,” tegasnya.

Wali Kota juga menggarisbawahi bahwa peran PHBI tidak terbatas pada penyelenggaraan kegiatan keagamaan semata, tetapi juga mencakup fungsi strategis sebagai penjaga nilai-nilai harmoni dalam masyarakat yang pluralistik. Ia menekankan pentingnya memahami konsep harmoni sebagai keseimbangan dalam perbedaan, bukan penyeragaman identitas.

Dalam penjelasannya, ia menggunakan analogi musikal dan artistik untuk menggambarkan makna harmoni. Menurutnya, perbedaan ibarat variasi nada dalam sebuah komposisi musik atau ragam warna dalam sebuah lukisan yang, ketika dipadukan secara proporsional, akan menghasilkan kesatuan yang indah dan bermakna.

Kota Kupang, lanjutnya, dapat dianalogikan sebagai sebuah kanvas besar yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Apabila seluruh elemen tersebut mampu bersinergi secara konstruktif, maka akan terwujud tatanan sosial yang damai, harmonis, dan berlandaskan semangat persaudaraan.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam mendukung berbagai aktivitas keagamaan yang diinisiasi oleh PHBI. Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan malam takbiran sebagai bagian dari perayaan keagamaan umat Islam.

“Saya telah menginstruksikan Bagian Kesejahteraan Rakyat untuk mengupayakan dukungan bagi kegiatan tersebut. Pemerintah Kota Kupang berkomitmen memfasilitasi pelaksanaan malam takbiran,” ungkapnya.

Mengakhiri sambutannya, Wali Kota menyampaikan ucapan selamat kepada Bustaman, S.STP, M.M., beserta seluruh pengurus PHBI yang baru dilantik. Ia berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan secara profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, sekaligus memperkuat nilai-nilai persatuan di tengah masyarakat.

Ia juga mengutip pesan tokoh nasional Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menekankan pentingnya nilai kemanusiaan universal: “Jika kamu bisa melakukan hal baik untuk orang lain, orang tidak pernah bertanya apa agamamu atau sukumu.”

Pesan tersebut, menurutnya, merefleksikan prinsip dasar dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif, di mana nilai kebaikan, saling menghormati, dan solidaritas menjadi landasan utama dalam menciptakan Kota Kupang yang damai dan toleran.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan