Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

YAO GMIT Terima Kunjungan Mission 21 Swiss, Paparkan Transformasi Kelembagaan dan Program Pemberdayaan Berkelanjutan

Avatar photo
gmit

ID, Kabupaten Kupang – Yayasan Alfa Omega GMIT (YAO GMIT) menerima kunjungan lembaga misi internasional asal Swiss, Mission 21 (M21), di Kantor Pusat YAO GMIT, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Kamis (4/6/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pasca Workshop Tata Kelola Organisasi dan Pengurangan Risiko Bencana yang dilaksanakan GMIT dan Mission 21 sehari sebelumnya di Hotel Harper Kupang. Kehadiran delegasi Mission 21 menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung perkembangan dan transformasi kelembagaan yang sedang dilakukan YAO GMIT dalam beberapa tahun terakhir.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dalam sesi dialog interaktif bersama jajaran pengurus YAO GMIT yang dipimpin Ketua Yayasan, Drs. Nithanel Pandie, MM, dipaparkan berbagai capaian strategis yang berhasil diwujudkan melalui proses revitalisasi organisasi. Setelah sempat mengalami masa stagnasi operasional, YAO GMIT kini menunjukkan kemajuan signifikan melalui penguatan tata kelola kelembagaan, pengembangan unit-unit usaha produktif, serta program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan.

gmit
Ketua Yayasan Alfa Omega GMIT (YAO GMIT) saat melakukan dialog interaktif dengan perwakilan Mission 21 Swiss

Nithanel Pandie menjelaskan bahwa transformasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pemulihan organisasi secara administratif, tetapi juga diarahkan pada pembangunan model pelayanan yang mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu program unggulan yang dipresentasikan kepada delegasi Mission 21 adalah pengembangan peternakan ayam pedaging modern yang dikelola secara terintegrasi. Program tersebut dikembangkan melalui kemitraan bersama kelompok tani sebagai upaya memperkuat ekosistem ekonomi lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Selain sektor peternakan, YAO GMIT juga berhasil mengembangkan sistem pertanian organik terintegrasi dan budidaya perikanan air tawar yang menjadi bagian dari strategi diversifikasi usaha berbasis sumber daya lokal. Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Pada sektor pemberdayaan masyarakat, YAO GMIT menjalankan program pendampingan petani jemaat melalui skema guaranteed market atau pasar terjamin. Melalui program tersebut, sekitar 100 kepala keluarga dari Jemaat Rehobot Fatuknutu dan Haumeni Nisum memperoleh pelatihan pertanian organik, pembuatan pupuk bokashi, serta penguatan kapasitas usaha tani.

Model pendampingan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga sekaligus memperkuat akses pasar bagi hasil produksi pertanian masyarakat. Dengan adanya kepastian pasar, petani memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan usaha pertanian mereka.

gmit

Sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas nasional, YAO GMIT juga berpartisipasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Saat ini, dapur MBG yang dikelola yayasan mampu memproduksi sekitar 3.000 porsi makanan bergizi setiap hari untuk melayani 3.000 siswa pada 19 institusi pendidikan.

Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi nyata YAO GMIT dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi anak usia sekolah.

Tidak hanya berfokus pada sektor pangan, kawasan YAO GMIT Center juga tengah dikembangkan menjadi pusat agrowisata edukatif yang mengintegrasikan unsur rekreasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat. Sejumlah fasilitas yang sedang dibangun antara lain kolam renang anak dan dewasa, area bermain keluarga, kafe, serta kawasan edukasi pertanian dan peternakan.

Konsep pengembangan ini diarahkan untuk menjadikan YAO GMIT sebagai pusat agro park berbasis komunitas yang tidak hanya berfungsi sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai laboratorium sosial bagi pengembangan kemandirian masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai moral, spiritualitas, dan keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, di wilayah Flores, YAO GMIT juga menjalankan Program Flores Empowerment for Agricultural Sustainability and Transformation (FEAST) melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, antara lain DBS Singapura, Humanis, dan ASPPUK.

Program tersebut merupakan bentuk intervensi sosial dalam upaya penguatan nutrisi keluarga dan percepatan penanganan stunting di Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ngada, Ende dan Manggarai Timur. Hingga saat ini, sekitar 800 keluarga petani telah mendapatkan pendampingan melalui edukasi pangan bergizi, penguatan ketahanan pangan rumah tangga, serta pemantauan kesehatan berbasis “Food Diary”.

Delegasi Mission 21 yang dipimpin Samuel Inbach bersama peserta dari berbagai negara juga berkesempatan meninjau langsung fasilitas peternakan ayam modern dan kawasan agrowisata YAO GMIT. Kunjungan lapangan tersebut memberikan gambaran konkret mengenai implementasi program-program pemberdayaan yang sedang dijalankan yayasan.

gmit
Perwakilan Mission 21 saat meninjau agrowisata dan perternakan ayam pedaging di YAO GMIT

Di akhir kegiatan, Ketua YAO GMIT, Nithanel Pandie, menyampaikan optimismenya terhadap masa depan organisasi yang saat ini terus berbenah dan berkembang.

“Kami percaya bahwa proses transformasi yang sedang berlangsung merupakan bagian dari panggilan pelayanan. Pengurus YAO GMIT akan terus berupaya membangun yayasan ini agar kembali menjadi saluran berkat bagi masyarakat, menghadirkan pelayanan yang berdampak, serta menjadi contoh dalam semangat memberi dan mencintai tanpa syarat sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus,” ujarnya.

Kunjungan Mission 21 tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas upaya transformasi yang sedang dilakukan YAO GMIT dalam membangun model pelayanan gerejawi yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan. Dengan berbagai program yang telah berjalan, YAO GMIT perlahan menunjukkan kebangkitannya sebagai lembaga yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan sosial, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan kesejahteraan yang inklusif.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan