Jane juga menilai praktik ini sebagai bagian dari reproduksi modal kultural, di mana pengalaman, refleksi, dan pengetahuan nonformal ditransfer secara berkelanjutan antarperempuan. Proses tersebut berkontribusi pada terbentuknya kohesi sosial yang lebih inklusif dan berbasis kesadaran kolektif.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih diwarnai relasi patriarkal, Jane menyebut bahwa model solidaritas perempuan menawarkan pendekatan alternatif dalam membangun kekuatan sosial. Pendekatan ini tidak bersifat konfrontatif, melainkan reflektif dan berakar pada kedekatan afektif.
Ia menegaskan bahwa kekuatan perempuan kerap bekerja secara tidak kasat mata, namun efektif dalam membentuk perubahan relasi sosial. Kekuatan tersebut muncul melalui penguatan harga diri, pengakuan timbal balik, serta kepercayaan yang dibangun secara konsisten.
Pernyataan Jane ini sekaligus mengajak publik untuk meninjau kembali pemaknaan tentang kekuatan dalam kehidupan sosial. Menurutnya, kekuatan tidak semata-mata diukur dari kontrol atau dominasi, tetapi juga dari kemampuan membangun solidaritas, empati, dan kerja kolektif yang berkelanjutan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









