OJK Tekankan Pentingnya Proteksi Finansial Sejak Muda untuk Menjamin Kesejahteraan Hari Tua

finansial
dok : lps

ID, Yogyakarta – Kesadaran dalam membangun ketahanan finansial sejak usia produktif dinilai menjadi faktor utama untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih aman dan sejahtera di masa depan. Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar mulai membangun perencanaan keuangan jangka panjang melalui instrumen perlindungan seperti asuransi.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono, saat menjadi pembicara dalam sesi Educational Class pada Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Centre, Sabtu (23/5/2026).

Dalam forum edukasi bertema “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera”, Sumarjono menjelaskan bahwa kesejahteraan di usia lanjut tidak hanya bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi juga ditentukan oleh kesiapan individu dalam mengelola risiko kehidupan sejak dini.

Menurut dia, banyak masyarakat masih menempatkan perencanaan keuangan sebagai kebutuhan sekunder, padahal berbagai risiko seperti gangguan kesehatan, kehilangan pekerjaan, maupun kondisi darurat ekonomi dapat muncul sewaktu-waktu dan berdampak langsung terhadap stabilitas finansial keluarga.

“Perencanaan masa depan harus dimulai sejak usia muda. Semakin cepat seseorang menyiapkan perlindungan finansial, maka semakin besar peluang untuk memiliki kehidupan yang lebih stabil pada masa tua,” ujarnya.

OJK menilai asuransi memiliki fungsi penting sebagai instrumen mitigasi risiko yang mampu membantu masyarakat menjaga keberlangsungan kondisi ekonomi ketika menghadapi situasi tak terduga. Namun, tingkat kepemilikan asuransi di Indonesia hingga kini masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Data OJK menunjukkan penetrasi industri asuransi nasional sepanjang 2025 baru mencapai 2,7 persen. Persentase tersebut masih berada di bawah tingkat penetrasi asuransi di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam.

Rendahnya penetrasi asuransi, lanjut Sumarjono, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari minimnya literasi keuangan masyarakat hingga masih adanya keraguan terhadap industri asuransi akibat kasus gagal bayar yang pernah terjadi beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, OJK melihat adanya perkembangan positif berupa meningkatnya minat generasi muda terhadap edukasi keuangan dan pengelolaan aset pribadi. Hal tersebut tercermin dari tingginya partisipasi peserta dalam kegiatan literasi finansial yang digelar dalam Jogja Financial Festival 2026.

Dalam sesi dialog, sejumlah peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa mengungkapkan bahwa produk asuransi sering kali dianggap rumit karena dipenuhi istilah teknis yang sulit dipahami. Selain itu, sebagian generasi muda juga lebih memilih instrumen investasi seperti saham atau aset digital karena dinilai memberikan potensi keuntungan yang lebih cepat.

Menanggapi hal tersebut, OJK menilai industri jasa keuangan perlu memperkuat pendekatan edukasi yang lebih sederhana, komunikatif, dan relevan dengan karakter generasi muda agar pemahaman terhadap pentingnya proteksi finansial dapat meningkat.

Kegiatan edukasi tersebut turut menghadirkan perwakilan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia serta jajaran Indonesia Financial Group yang membahas pentingnya keseimbangan antara investasi dan perlindungan keuangan dalam perencanaan ekonomi keluarga.

Melalui penguatan literasi keuangan secara berkelanjutan, OJK berharap masyarakat tidak hanya fokus pada upaya mencari keuntungan finansial jangka pendek, tetapi juga mampu membangun sistem perlindungan ekonomi yang kuat demi menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan pada masa depan.

red

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version