Tertinggi Sejak Covid, Laju Pertumbuhan Ekonomi NTT 2025 Sebesar 5,14 Persen

ekonomi
Kegiatan Diskusi bersama media Sasando Dia di Kantor Bank Indonesia Perwakilan NTT Foro : Ein

Meski fundamental ekonomi menguat, Bank Indonesia mengingatkan potensi tekanan eksternal pada 2026. Konflik di kawasan Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga energi global dan gangguan distribusi. Dampaknya bisa menjalar ke inflasi daerah melalui biaya logistik dan energi.

Sepanjang 2025, inflasi NTT tercatat 2,39 persen (yoy), berada tepat dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen. Kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga. Namun pada Februari 2026, inflasi meningkat menjadi 3,42 persen (yoy), terutama dipicu penyesuaian tarif listrik akibat efek basis kebijakan diskon awal 2025. Sementara komponen bahan makanan tetap terkendali berkat koordinasi pengendalian inflasi daerah.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat strategi 4K: menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan mengintensifkan komunikasi publik. Implementasinya meliputi operasi pasar, pasar murah, gerakan tanam, hingga subsidi transportasi.

Optimisme 2026 dan Akselerasi Digital

Memasuki 2026, ekonomi NTT diproyeksikan tumbuh pada kisaran 4,94–5,54 persen. Proyeksi tersebut ditopang prospek konsumsi rumah tangga yang tetap dominan serta peningkatan investasi, meski risiko global masih menjadi variabel yang dicermati.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version