Denmark Nilai Dialog Soal Greenland Mulai Mencair, Ketegangan dengan AS Mereda

greenland
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa di markas besar Uni Eropa di Brussels pada 29 Januari 2026. Simon Wohlfahrt | Afp | Gambar Getty

ID, Brussels – Pemerintah Denmark menilai pembicaraan tingkat tinggi mengenai masa depan Greenland menunjukkan perkembangan positif setelah sempat memicu ketegangan diplomatik. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, pada Kamis menyebut pertemuan terbaru antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland berlangsung dalam suasana yang “sangat konstruktif” dan menandai kembalinya dialog ke arah yang disepakati bersama.

Pembicaraan tersebut digelar di Washington pada Rabu, sebagai upaya meredam krisis diplomatik yang muncul akibat pernyataan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pulau Arktik yang luas namun berpenduduk jarang itu. Retorika Trump sebelumnya memicu kekhawatiran serius di Denmark dan Greenland, sekaligus menimbulkan reaksi dari sejumlah negara Eropa.

Berbicara kepada wartawan di Brussels menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa, Rasmussen mengatakan diskusi berjalan dengan baik dan membuka ruang bagi pertemuan lanjutan. Ia mengakui bahwa dinamika pembicaraan sempat mengalami kemunduran dalam beberapa pekan terakhir, namun menilai situasi kini mulai stabil.

“Tidak semua persoalan telah terselesaikan, tetapi setelah eskalasi yang cukup tajam, sekarang kita kembali ke jalur yang benar,” ujar Rasmussen. Ia menambahkan, meskipun belum ada kesimpulan konkret, suasana dialog saat ini jauh lebih menjanjikan dibandingkan sepekan sebelumnya.

Ketegangan mulai mereda setelah Trump, dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan lalu, menyatakan tidak akan menggunakan kekerasan untuk merebut Greenland. Pada kesempatan yang sama, ia juga menarik kembali rencana pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang ambisinya atas wilayah otonom Denmark tersebut.

Trump kemudian menyampaikan melalui media sosial bahwa ia memiliki “kerangka kesepakatan masa depan” terkait Greenland, dan dalam wawancara terpisah menyebut adanya “konsep” kesepakatan yang sedang dipertimbangkan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa pembicaraan mengenai Greenland dilakukan secara profesional dan langsung pada pokok persoalan. Ia menyatakan optimisme bahwa proses tersebut akan menghasilkan solusi yang dapat diterima semua pihak, seraya menegaskan bahwa perhatian Presiden AS terhadap Greenland berkaitan erat dengan kepentingan keamanan nasional.

Di tengah dinamika tersebut, para pemimpin Denmark dan Greenland dalam beberapa hari terakhir melakukan kunjungan bersama ke Jerman dan Prancis untuk menggalang dukungan dari mitra-mitra Eropa. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mengungkapkan bahwa pemerintahannya menghadapi tantangan ganda, yakni merespons tekanan dari luar sekaligus menenangkan masyarakat yang merasa cemas terhadap masa depan wilayah mereka.

Trump sendiri telah lama menyuarakan pandangan bahwa Amerika Serikat perlu mengendalikan Greenland karena nilai strategisnya. Sejak 2019, ia menyebut pulau terbesar di dunia itu penting bagi kepentingan keamanan nasional AS. Minat tersebut kembali menguat setelah operasi militer Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari lalu.

Pernyataan-pernyataan Trump memicu kekhawatiran di Denmark dan Greenland. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bahkan memperingatkan bahwa tatanan dunia seperti yang dikenal selama ini tengah mengalami perubahan mendasar. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Greenland menolak kendali Amerika Serikat atas wilayah mereka, meskipun sebagian besar mendukung kemerdekaan penuh dari Denmark.(red)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version