ID, JAKARTA – Lonjakan investasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang selama ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor teknologi berpotensi menimbulkan risiko bagi stabilitas keuangan global. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, koreksi tajam di pasar saham teknologi akibat ekspektasi keuntungan yang tidak terpenuhi dapat merambat ke sektor keuangan dan perekonomian dunia.
Peringatan tersebut muncul di tengah derasnya aliran modal untuk membangun pusat data (data center), membeli cip semikonduktor, dan mengembangkan model AI. Investasi bernilai miliaran dolar itu didorong ekspektasi bahwa teknologi AI akan menghasilkan keuntungan besar dalam jangka panjang. Namun, besarnya belanja modal juga meningkatkan tekanan bagi perusahaan untuk membuktikan bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang sepadan.
Jika ekspektasi pasar tidak terealisasi, kepercayaan investor berisiko melemah. Penurunan harga saham perusahaan teknologi dalam skala besar tidak hanya berdampak pada investor di pasar modal, tetapi juga dapat menjalar ke lembaga keuangan dan sektor ekonomi lainnya.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian IMF adalah peningkatan penggunaan utang untuk membiayai ekspansi industri AI. Operator pusat data berskala besar semakin membutuhkan pembiayaan untuk membangun infrastruktur, sementara sebagian investor menggunakan pinjaman untuk memperbesar eksposur mereka terhadap saham-saham teknologi.
Kondisi tersebut berpotensi memperbesar dampak koreksi pasar. Ketika pendapatan perusahaan tidak memenuhi proyeksi, kemampuan memenuhi kewajiban utang dapat tertekan. Pada saat yang sama, penurunan nilai aset bisa memperburuk posisi keuangan investor yang menggunakan pembiayaan berbasis utang.
IMF menyoroti kondisi tersebut sebagai salah satu faktor yang dapat mempercepat koreksi pasar.
“Utang (leverage) yang makin membengkak bisa jadi katalis koreksi tersebut. Hyperscaler, operator data center terbesar, berutang makin lama makin banyak. Di sisi lain, investor membeli saham AI juga dengan leverage,” demikian peringatan IMF sebagaimana dikutip dalam laporan CNBC Indonesia.
Keterkaitan Bisnis Perusahaan AI Menambah Risiko
Selain besarnya kebutuhan modal, keterkaitan bisnis dan pembiayaan antarpelaku industri AI juga menjadi perhatian. Investasi, kontrak pembelian, serta komitmen pasokan teknologi menciptakan hubungan ekonomi yang erat di antara perusahaan-perusahaan besar dalam ekosistem tersebut.
Salah satu contohnya adalah hubungan NVIDIA dan OpenAI. NVIDIA menyepakati investasi bernilai miliaran dolar ke OpenAI, sementara OpenAI merupakan salah satu pembeli besar cip NVIDIA untuk mendukung pengembangan dan pengoperasian model AI.
Hubungan seperti ini tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya praktik yang bermasalah. Namun, keterkaitan investasi dan transaksi antarpelaku industri dapat meningkatkan risiko apabila pertumbuhan sektor melambat atau salah satu perusahaan mengalami tekanan keuangan.
Dalam kondisi tersebut, gangguan pada satu perusahaan berpotensi memengaruhi pihak lain melalui investasi, kontrak bisnis, maupun kewajiban pembayaran. Jika keterkaitan itu meluas, tekanan yang awalnya terbatas pada satu entitas dapat menyebar ke bagian lain dari ekosistem AI.
IMF mencatat bahwa sejak 2023, transaksi investasi dan pembiayaan dalam ekosistem tersebut telah melibatkan nilai hingga ratusan miliar dolar, disertai ekspektasi pendapatan masa depan yang jauh lebih besar. Besarnya komitmen keuangan dan harapan pertumbuhan itu membuat penilaian terhadap prospek pendapatan menjadi semakin penting.
Risiko muncul ketika valuasi perusahaan lebih banyak bertumpu pada proyeksi keuntungan masa depan daripada kemampuan menghasilkan arus kas yang memadai saat ini. Apabila proyeksi tersebut tidak tercapai, penyesuaian valuasi dapat berlangsung tajam dan memengaruhi akses perusahaan terhadap pendanaan.
Suku Bunga dan Serangan Siber Jadi Risiko Tambahan
Ancaman terhadap stabilitas keuangan tidak hanya berasal dari kemungkinan pecahnya gelembung investasi AI. Perubahan kondisi moneter juga dapat memperbesar tekanan, terutama apabila suku bunga atau imbal hasil obligasi pemerintah meningkat.
Kenaikan imbal hasil dapat mendorong biaya pembiayaan menjadi lebih mahal, khususnya bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan modal besar dan bergantung pada pinjaman. Dalam industri yang membutuhkan investasi infrastruktur berkelanjutan, peningkatan biaya utang dapat mempersempit ruang keuangan perusahaan.
IMF juga mengingatkan potensi serangan siber berskala besar yang memanfaatkan AI. Serangan terhadap lembaga keuangan maupun institusi pemerintah dapat mengganggu operasional, merusak kepercayaan publik, dan memicu dampak yang meluas apabila sistem yang terdampak saling terhubung.
Kemampuan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas memang membuka peluang ekonomi. Namun, teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat serangan siber, sehingga pengembangan AI perlu diimbangi dengan pengamanan sistem dan pengelolaan risiko yang memadai.
Ekspektasi Pendapatan Mulai Menjadi Sorotan
Keraguan terhadap kemampuan industri AI menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi mulai menjadi perhatian investor. Laporan mengenai pendapatan tahunan OpenAI yang disebut berada di bawah sasaran turut memunculkan pertanyaan mengenai kecepatan perusahaan-perusahaan AI dalam mengubah investasi besar menjadi pendapatan berkelanjutan.
Meski demikian, perkembangan pendapatan satu perusahaan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh industri AI berada dalam gelembung yang segera pecah. Penilaian risiko tetap perlu mempertimbangkan kinerja keuangan masing-masing perusahaan, besarnya kewajiban utang, arus kas, dan prospek permintaan terhadap layanan AI.
Peringatan IMF pada dasarnya menyoroti potensi risiko sistemik ketika valuasi tinggi, pembiayaan berbasis utang, dan keterkaitan bisnis bertemu dalam satu ekosistem yang berkembang cepat.
Apabila ekspektasi pertumbuhan tidak terpenuhi secara luas, koreksi pasar dapat berdampak lebih besar daripada sekadar penurunan harga saham. Namun, besarnya dampak terhadap perekonomian global akan bergantung pada skala koreksi, tingkat keterhubungan antarpelaku industri, serta kemampuan perusahaan dan lembaga keuangan menyerap kerugian. red
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
