Kondisi serupa juga terjadi di Inggris. Harga bensin yang terus meningkat mendorong bertambahnya beban rumah tangga sekaligus memunculkan fenomena sosial baru berupa meningkatnya kasus pengemudi yang meninggalkan SPBU tanpa membayar bahan bakar yang telah diisi.
Di Amerika Serikat, masyarakat juga menghadapi tekanan yang sama. Harga bahan bakar kendaraan terus bergerak naik sehingga meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan energi. Lembaga riset ekonomi memperkirakan setiap keluarga di AS harus mengeluarkan ratusan dolar tambahan sejak konflik Iran dimulai.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa meskipun telah muncul upaya deeskalasi dan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, dampak ekonomi dari konflik tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka menengah. Harga energi yang tinggi berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi global serta meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.
Situasi ini sekaligus menunjukkan betapa eratnya hubungan antara stabilitas geopolitik dan ketahanan ekonomi dunia. Ketika konflik terjadi di salah satu pusat produksi energi global, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga menjalar ke berbagai belahan dunia melalui kenaikan harga BBM, biaya produksi, dan beban hidup masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
