Aktivitas Penerbangan NTT Tumbuh Signifikan, Mobilitas Udara Kian Dominan

penerbangan

ID, Kupang – Aktivitas angkutan udara di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tren pertumbuhan yang solid pada Oktober 2025. Berdasarkan rilis Badan Riset Statistik Provinsi NTT, total penerbangan yang terlayani mencapai 3.717 pergerakan pesawat, meningkat 7,33 persen dibandingkan September 2025 yang mencatat 3.463 penerbangan. Secara tahunan, pertumbuhan bahkan mencapai 19,94 persen dibandingkan Oktober 2024 yang berada pada level 3.099 penerbangan.

Kinerja ini merefleksikan penguatan mobilitas udara di wilayah kepulauan, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pariwisata, dan konektivitas antarpulau. Secara struktural, pertumbuhan tersebut masih sangat dipengaruhi oleh dua simpul utama transportasi udara di NTT, yakni Bandara El Tari Kupang dan Bandara Komodo Labuan Bajo.

El Tari dan Komodo Dominasi Distribusi Penerbangan

Dari total 3.717 penerbangan selama Oktober 2025, Bandara El Tari Kupang menyumbang porsi terbesar dengan kontribusi 36,62 persen atau sekitar 1.361 pergerakan pesawat. Posisi Kupang sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan distribusi logistik menjadikan bandara ini tetap berfungsi sebagai hub utama transportasi udara di NTT.

Bandara Komodo Labuan Bajo menempati posisi kedua dengan kontribusi 26,07 persen atau sekitar 969 pergerakan pesawat. Peran strategis Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas pariwisata nasional terus mendorong intensitas penerbangan, baik domestik maupun penunjang konektivitas regional.

Secara kumulatif, kedua bandara tersebut menyumbang lebih dari 60 persen total aktivitas penerbangan di NTT, menegaskan pola konsentrasi pergerakan udara yang masih terpusat pada dua simpul utama.

Pertumbuhan Dinamis Bandara Regional

Meski dominasi dua bandara besar masih kuat, data juga menunjukkan dinamika pertumbuhan di sejumlah bandara regional. Bandara Gewayantana di Kabupaten Flores Timur mencatat lonjakan tertinggi secara bulanan dengan pertumbuhan 107,14 persen dibandingkan September 2025, meskipun secara volume absolut masih relatif terbatas.

Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, mengalami peningkatan signifikan sebesar 45,35 persen, mengindikasikan mulai menguatnya permintaan layanan penerbangan di kawasan tersebut. Sejumlah bandara lain seperti Lede Kalumbang dan H. H. Aroeboesman Ende juga mencatat pertumbuhan, meskipun pada tingkat yang lebih moderat.

Fenomena ini mencerminkan proses diversifikasi rute dan penyebaran mobilitas udara ke wilayah-wilayah non-hub, meskipun kontribusi utama masih terkonsentrasi di Kupang dan Labuan Bajo.

Mobilitas Penumpang Udara Meningkat, Laut Tertekan

Sejalan dengan peningkatan frekuensi penerbangan, jumlah penumpang angkutan udara dari dan ke NTT pada Oktober 2025 tercatat mencapai 264.602 orang. Angka ini meningkat 1,43 persen secara bulanan dan tumbuh 7,66 persen secara tahunan.

Sebaliknya, angkutan laut menunjukkan tren yang berlawanan. Total pelayaran laut selama Oktober 2025 tercatat 7.398 perjalanan, turun 4,17 persen dibandingkan September 2025, meskipun masih meningkat 5,28 persen secara tahunan. Penurunan yang lebih tajam terjadi pada jumlah penumpang angkutan laut, yang merosot 14,57 persen secara bulanan dan 22,46 persen secara tahunan.

Kondisi ini mengindikasikan pergeseran preferensi masyarakat dari moda transportasi laut ke udara, terutama untuk perjalanan antarpulau dengan kebutuhan waktu tempuh yang lebih efisien.

Implikasi Strategis Konektivitas Wilayah

Secara keseluruhan, statistik angkutan udara NTT Oktober 2025 menggambarkan tren ekspansif yang konsisten. Pertumbuhan hampir 20 persen secara tahunan membuka peluang pengembangan rute domestik baru serta peningkatan konektivitas regional, khususnya di kawasan perbatasan dan kepulauan.

Dominasi Bandara El Tari Kupang dan Bandara Komodo Labuan Bajo menegaskan peran keduanya sebagai tulang punggung sistem transportasi udara NTT, sekaligus motor penggerak ekonomi dan pariwisata. Namun, pertumbuhan di bandara-bandara kecil menunjukkan potensi pemerataan mobilitas yang perlu terus didorong.

Di sisi lain, penurunan signifikan penumpang angkutan laut menuntut perhatian kebijakan, baik melalui peningkatan kualitas layanan, integrasi antarmoda, maupun penyesuaian peran transportasi laut dalam sistem konektivitas wilayah.

Dengan strategi lintas sektor yang terintegrasi, pertumbuhan transportasi udara diharapkan tidak hanya memperkuat pusat-pusat ekonomi, tetapi juga memperluas manfaat pembangunan bagi seluruh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur.

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version