Ia juga memberikan motivasi kepada para peserta agar terus membangun rasa percaya diri serta keberanian menghadapi tantangan kehidupan. Menurutnya, pendidikan inklusif tidak hanya bertujuan menciptakan prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter resilien, mandiri, dan adaptif.
Dalam pemaparannya, Hengky menjelaskan bahwa setiap cabang kegiatan memiliki dimensi pembelajaran yang berbeda. O2SN, misalnya, menjadi sarana membangun sportivitas, disiplin, dan daya juang. FLS3N menjadi ruang ekspresi estetika dan emosional peserta didik, sedangkan LKS diarahkan untuk memperkuat keterampilan praktis sebagai fondasi menuju kemandirian sosial dan ekonomi di masa depan.
Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, berkomitmen memperkuat pembangunan pendidikan inklusif melalui pendekatan yang nondiskriminatif dan berorientasi pada kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh anak.
Apresiasi juga disampaikan kepada para guru, orang tua, dan pendamping yang selama ini berperan penting dalam mendukung perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus. Hengky menilai keberhasilan para peserta tidak terlepas dari dedikasi serta pendampingan yang dilakukan secara konsisten oleh lingkungan terdekat mereka.
“Di balik anak-anak yang hebat, selalu ada orang-orang luar biasa yang dengan penuh kesabaran mendampingi proses tumbuh kembang mereka,” katanya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
















