ID, Flores Timur — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) terus melakukan upaya tanggap darurat bagi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sejak Januari 2024 hingga pasca-erupsi besar pada 4 November yang menelan sembilan korban jiwa, MDMC UNIMOF telah membangun dua posko pengungsian di Kecamatan Konga sebagai lokasi evakuasi yang dinilai aman.
Dua posko tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendukung, termasuk MCK darurat yang layak pakai, instalasi air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya untuk menunjang aktivitas pengungsi.
Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere, Erwin Prasetyo, saat meninjau lokasi posko pada Senin (11/11/2024), mengatakan bahwa pembangunan posko dilakukan segera setelah erupsi besar terjadi.
“Setelah erupsi pada 4 November, tanggal 5 kami lakukan observasi dan tanggal 6 kami langsung turun ke lapangan. Kami membangun dua posko, posko utama di Desa Konga di samping Brimob, dan membangun dua unit MCK yang digunakan oleh pengungsi dan relawan. Seluruh fasilitas tersebut merupakan bantuan dari MDMC UNIMOF,” ujar Erwin.
Selain posko utama, MDMC UNIMOF juga membangun posko tambahan di Kantor Penyuluh Pertanian Desa Konga. Di lokasi tersebut, dibangun dua unit MCK tambahan serta instalasi air bersih untuk melayani pengungsi mandiri yang jumlahnya hampir mencapai 100 jiwa.
“Di sekitar lokasi ini terdapat pengungsi mandiri, sehingga kami membangun MCK dan instalasi air agar kebutuhan dasar mereka dapat terpenuhi,” tambahnya.
Erwin menegaskan bahwa selain kebutuhan pangan dan sandang, fasilitas MCK, air bersih, dan listrik menjadi prioritas utama dalam penanganan pengungsi. MDMC UNIMOF juga menyediakan perlengkapan dapur umum, peralatan memasak, wadah makanan, serta kebutuhan balita dan ibu-ibu.
MDMC UNIMOF turut menerjunkan relawan pendidikan yang ditempatkan di posko utama, posko pembantu, pengungsian mandiri, serta sekolah-sekolah di sekitar wilayah terdampak. Untuk tahap selanjutnya, MDMC UNIMOF juga merencanakan penguatan layanan kesehatan bagi pengungsi.
“Pasca-erupsi biasanya muncul penyakit seperti ISPA dan TBC. Ke depan kami akan membuka layanan relawan kesehatan, dan saat ini masih berkoordinasi dengan puskesmas untuk memperoleh data pendukung,” jelas Erwin.
Sementara itu, salah satu pengungsi mandiri, Paulus Pa Temu, mengatakan dirinya bersama 12 kepala keluarga mengungsi di Balai Penyuluh Pertanian Desa Konga setelah meninggalkan Desa Nobo, Kecamatan Ilebura.
“Kami mengungsi mandiri di sini. Bantuan sudah kami terima dari Dinas Sosial, BNPB, dan MDMC Universitas Muhammadiyah Maumere. Kami berharap aktivitas erupsi ini segera berakhir,” ujarnya.
MDMC UNIMOF menegaskan akan terus melakukan pendampingan dan penyesuaian bantuan sesuai dengan kebutuhan pengungsi selama masa tanggap darurat berlangsung.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












