“Bagi saya, bertani itu bukan semata-mata tempat pelarian, melainkan tempat pengabdian,” ujarnya.
Mengubah Cara Pandang Generasi Muda
Gerakan pertanian yang dibangun para pemuda TTS juga membawa pesan tentang perubahan cara pandang terhadap profesi petani.
Di tengah dorongan generasi muda untuk mencari pekerjaan di perkotaan, mereka justru memilih kembali ke lahan dan mengembangkan sektor yang menjadi salah satu fondasi kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi mereka, modernisasi pertanian tidak harus berarti meninggalkan desa. Sebaliknya, teknologi, inovasi, pengelolaan yang lebih produktif, dan akses pasar dapat menjadi instrumen untuk membuat sektor pertanian tetap relevan bagi generasi muda.
Dari Desa Noinbila, gagasan tersebut kemudian diarahkan pada tujuan yang lebih luas: membangun kemandirian pangan mulai dari tingkat desa.
Mengajak Pemerintah dan Masyarakat Bergerak Bersama
Para pemuda tani TTS menyadari bahwa penguatan pertanian tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan kelompok tani.
Mereka mengajak pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat untuk membangun kolaborasi dalam memperkuat ekosistem pertanian lokal.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar gerakan anak muda di sektor pertanian tidak berhenti sebagai inisiatif kelompok, tetapi berkembang menjadi bagian dari upaya bersama menjaga produksi pangan dan perekonomian masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Idealis.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.













